Oleh Faizal Assegaf pada hari Selasa, 23 Jan 2024 - 19:28:58 WIB
Bagikan Berita ini :

Politik Jahat Boy Thahir, Menjegal Anies dan Ganjar

tscom_news_photo_1706012938.jpeg
Faizal Assegaf (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Erick dan Boy Thohir bersaudara makin ganas konsolidasi sejumlah konglomerat super kaya. Mengklaim ⅓ penyumbang ekonomi RI siap menangkan Prabowo-Gibran. Deklarasi culas itu muncul di tengah isu Pilpres curang.

Seolah bandar politik digiring dalam pemufakatan jahat untuk membajak demokrasi. Bermondalkan ribuan triliun punya target Pilpres satu putaran. Boy Thohir secara terbuka menyodorkan peta kekuatan para pemodal besar tersebut.

"Mulai dari Djarum Grup, Sampoerna Grup, Adaro Grup, siapa lagi, pokoknya grup-grup semua ada di sini, ada Ninin, the richest wanita in Indonesia, dan semuanya Pak," ujar Boy Thoir dalam acara Relawan Erick Thohir Alumni Amerika Serikat di Plaza Senayan, Jakarta, Senin (22/1).

Prabowo Subianto hadir dan dinobatkan sebagai tamu spesial sembari menggulir pesan penting: "Kehormatan besar, baru saya paham sekarang kenapa saya dua kali kalah pilpres, karena dulu saya enggak diundang ke sini".

Tersirat Prabowo mengakui dua kali dicurangi lantaran tanpa sokongan Boy Thohir dan kawanan konglomerat. Kini berbalik membongkok pada rezim Jokowi dan oligarki. Di jalan gelap itu, Prabowo dijamin bakal menang satu putaran.

Keterlibatan oligarki dengan modal besar di ruang demokrasi punya daya rusak dan ancaman bagi kedaulatan politik rakyat. Sudah banyak protes rakyat bermunculan. Rakyat sangat marah dan merasa demokrasi disandera pemodal besar.

Manuver Boy Thahir dan kelompok konglomerat yang berada di lingkar kekuasaan jelas bikin gaduh. Kecurigaan publik atas peran oligarki merusak demokrasi sangat nyata. Hak dan kedaulatan politik rakyat terancam diberangus.

Terlebih pengakuan Prabowo dalam pertemuan pengusaha kaya tersebut, bahwa dirinya dua kali kalah dalam Pilpres. Ukurannya karena tidak disokong oleh jaringan oligarki. Seolah menang atau kalah atas restu pemodal besar.

Pertemuan Boy Thahir dan pemodal besar jelang pemungutan suara 14 Februari 2024 harus disikapi serius. Demokrasi tidak boleh kangkaki kelompok oligarki demi menyingkirkan kehendak aspirasi rakyat. Jelas jahat dan culas.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
AMIN BANNER 01
advertisement
AMIN BANNER 02
advertisement
AMIN BANNER 03
advertisement
AMIN BANNER 04
advertisement
AMIN BANNER 06
advertisement
AMIN BANNER 08
advertisement
Lainnya
Opini

WS Rendra, Daulat Rakyat dan Daulat Hukum

Oleh Rusdy Setiawan Putra
pada hari Minggu, 11 Feb 2024
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --SEJAK masih di bangku SMA, saya sudah menulis puisi, cerpen, naskah drama, resensi kebudayaan dan opini tentang kehidupan di beberapa media massa, salah satunya di Harian ...
Opini

Apakah Bahan Bakar HIlidrogen Lebih Ekonomis?

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama mengkritik kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal program hilirisasi nikel, dia bilang komoditas ini bukan satu-satunya masa depan ...