Oleh Sahlan Ake pada hari Rabu, 07 Feb 2024 - 23:16:51 WIB
Bagikan Berita ini :

Dalam Kondisi Stroke Pendiri Ponpes di Kebagusan Jaksel Nikah Siri dengan Anak Bawah Umur

tscom_news_photo_1707322611.jpeg
Ilustrasi pernikahan (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) di Kebagusan, Jakarta Selatan (Jaksel) Kiai Haji Abdurahman mengakui, telah melakukan pernikahan di bawah tangan (secara agama/siri) dengan Melati (bukan nama sesungguhnya) yang masih terbilang di bawah umur berusia sekitar 16 tahun.

Pria berusia sekitar 64 tahun ini, beralasan menikahi Melati karena rasa kasihan dengan statusnya sebagai anak yatim. Karena itu, ia mengatakan, sengaja meninggalkan Melati yang merupakan warga Sukabumi, Jawa Barat itu, lantaran tidak didasari rasa suka atau cinta.

Bahkan terlontar dari Abdurahman yang sejak menikah dengan Melati telah mengidap penyakit stroke ini, bahwa paras remaja wanita tersebut tidak cantik.

"Benar tapi belum pernah disentuh, karena ibunya menawarkan untuk bantu anak yatim. Lagi juga anaknya jelek, saya juga nggak suka, karena nolong anak yatim,"kata Abdurahman pada wartawan ditemui di kantornya kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan, Selasa (6/2/2024).

Karena mengalami stroke, perbincangan wartawan dan Abdurahman didampingi anak laki-lakinya yakni Ibadurahman, yang kini menggeser posisinya sebagai,Ketua Yayasan.

Abdurahman pun hanya bisa membalas perbincangan secara tertulis melalui whatsaap karena kesulitan berbicara. Meski demikian, ia tidak kesulitan menulis. pesan pada wartawan.

"Saya sedang sakit stroke sudah mau 3 tahun susah berjalan dan bicara, mana ada yang mau sama saya," kata Abdurahman.

"Istri saya aja ninggalin saya sudah mau setahun. Sementara ada juga yayasan diambil alih oleh anak,uang juga dapat dari anak," inbuhnya.

Lebih lanjut, Abdurahman mengungkapkan, semenjak menikah akhir tahun lalu baru memberi uang sebesar Rp150 ribu untuk keperluan membayar biaya sekolah. Selama dua bulan, ibu dari Melati juga meminta uang untuk membayar rumah yang disewa, modal dagang, dan beli tanah. Namun, ketiga permintaan ibu dari Melati itu tidak dipenuhi Abdurahman.

"Makanya saya mundur (meninggalkan Melati) sudah dua bulan," ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, Melati (bukan nama sesungguhnya-red) wanita remaja di bawah umur, berusia sekitar 16 tahun dilaporkan mengalami trauma fisik dan mental setelah mengalami tindakan kekerasan seksual.

Ironisnya terduga pelaku adalah seorang pemuka agama, pendiri Pondok Pesantren di Kebagusan, Jakarta Selatan Kiai Haji Abdurahman. Kisah ini terkuak dari Ari orang dekat Abdurahman yang bertugas menjadi penghulu mengawinkannya dengan Melati. Kini, Ari menyesali perbuatannya setelah melihat kepedihan menimpa Melati dan keluarga.

"Kiai Haji Abdurahman menjabat pimpinan Yayasan itu. Pihak Keluarga sangat khawatir dengan keadaan Melati, banyak menyendiri dan sering menangis tidak seperti anak-anak normal seusianya, itu yang membuat saya akhirnya menyesal," kata Ari, Selasa (6/2/2024).

Ari mengungkapkan, kejadian ini bermula saat Kiai Abdurahman mendatangi orang tua dari Melati di Sukabumi, Jawa Barat, sekitar akhir tahun 2023 lalu. Lantas, Abdurahman yang belakangan diketahui memiliki belasan istri ini meminang Melati menjadi istrinya juga.

"Saya sendiri yang menjadi penghulu menikahkan Kiai Abduragman dengan 13 wanita ditambah satu dengan Melati. Tapi nasib 13 wanita lainnya saya tidak tahu lagi," kata Ari.

Dikatakan, kepada orang tua, Abdurahman berjanji akan memenuhi segala keperluan jika direstui menikahi Melati. Mendengar itu, pihak orang tua sempat menolak dengan alasan usia Melati masih di bawah umur; belum matang memasuki jenjang pernikahan. Namun, Abdurahman melancarkan segala cara membujuk orang tua Melati agar setuju.

Hingga akhirnya orang tua memenuhi keinginan Abdurahman setelah berjanji tidak akan berhubungan badan atau melakukan seks hingga Melati berusia 17 tahun pada 2025 nanti.

"Tapi Kiai Abdurahman ingkar janji, Melati dipaksa melayani hubungan seks hingga terjadi penolakan keras. Melati menangis histeris sejadi-jadinya sampai berteriak," ujar Ari.

Setelah nafsu tidak tersalurkan, Abdurahman lantas meninggalkan Melati dan keluarganya begitu saja tanpa kabar. Alhasil segala iming-iming terutama soal kesanggupan memenuhi keperluan keluarga sekadar menjadi janji manis.

Hari-hari Melati dan keluarga polos itu pun dirundung pilu kesedihan. Belum lagi, menahan malu pada kerabat dan tetangga akibat tertipu rayuan gombal sang Kiai.

"Kasihan Melati jadi canggung ke sekolah malu juga pada teman-temannya dan para guru. Ya namanya di desa masalah keluarga pasti cepat menyebar tanpa disadari pihak keluarga," ucapnya.

Sisi lain, keluarga Melati berupaya menggali informasi terkait aktivitas Abdurahman dengan harapan dapat menemui pria berusia sekitar 60 tahun itu, guna menuntut pertanggungjawaban. Perihal ini, menghubungi sejumlah pengurus hingga pengajar di Pondok Pesantren Al Ihsan.

Sayangnya, keterangan yang didengar tidak jauh berbeda dengan nasib nahas dirasakan Melati dan keluarga. Pasalnya, Abdurahman diduga sering melecehkan para guru wanita atau ustadzah. Modusnya sama, langsung mengajak menikah para ustadzah yang ditemui.

Abdurahman bahkan tidak segan meneror hingga psikologi para ustadzah tertekan setelah hasrat kawinnya tersebut ditolak. Atas itu, Ari mengakui, informasi didengar pihak keluarga lalu disampaikan padanya itu benar. Hal itu, lanjutnya, menjadi rahasia umum di lingkungan Ponpes dan yayasan.

"Beberapa ustadzah yang dihubungi keluarga Melati mengaku terpaksa memendam tekanan psikologi itu, sebab mereka membutuhkan pekerjaan itu. Mereka bilang teror dilakukan Kiai Abdurahman hingga waktu malam dan subuh dengan cara video call, mereka merasa Kiai Abdurahman seperti memiliki kelainan seks," ujar Ari menceritakan informasi diterimanya dari keluarga Melati.

Lebih lanjut, merasa tidak mendapatkan keadilan atas ulah Abdurahman, pihak keluaarga berencana melapor pada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan tidak menutup kemungkinan ke pihak Kepolisian. Harapannya agar tidak ada lagi korban seperti Melati dan wanita lainnya seperti para ustadzah.

"Pihak keluarga berharap semoga para santriwati di Ponpes Al Ihsan Kebagusan tidak bernasib sama seperti Melati. Maka mereka akan laporkan Kiai Abdurahman agar mendapat hukuman setimpal dan jera," ujarnya.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
AMIN BANNER 01
advertisement
AMIN BANNER 02
advertisement
AMIN BANNER 03
advertisement
AMIN BANNER 04
advertisement
AMIN BANNER 06
advertisement
AMIN BANNER 08
advertisement