Oleh Alfin Pulungan pada hari Minggu, 27 Sep 2020 - 16:54:12 WIB
Bagikan Berita ini :

Kemajemukan Indonesia Harus Jadi Poros Perdamaian Dunia

tscom_news_photo_1601200374.jpg
Tangkapan layar webinar yang digelar International Politics Forum bertema "Global Peace: Quran Burning In Europe". (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) -- International Politics Forum menggelar webinar dengan tema "Global Peace: Quran Burning In Europe" Ahad (27/09/2020). Seminar web ini dihadiri lebih dari 120 peserta yang didominasi oleh Mahasiswa diseluruh Indonesia.

Adapun narasumber dalam webinar ini adalah Staf Khusus Wakil Presiden Masykuri Abdillah, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo, Duta Besar Indonesia untuk Swedia Bagas Hapsoro, dan Duta Besar Indonesia untuk Norwegia Todung Mulya Lubis.

Dalam paparannya, Staf Khusus Wakil Presiden Masykuri Abdillah, menjelaskan bahwa word peace adalah konsep tentang keadaan ideal dalam hal kebahagiaan, kebebasan, dan kedamaian antara semua orang. Untuk mewujudkan kedamaian ini diperlukan tata hukum internasional dan berbagai aspek lainnya.

"Untuk mewujudkannya diperlulan tata hukum internasional dan kebijakan negara yang kondusif, kerjasama antar bangsa; dan antar warga negara serta menghindarkan konflik kekerasan dan perang antar mereka," kata Masyukuri.

Staf Khusus Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo mengatakan, hubungan antar agama di dunia kkian waktu semakin harmonis. Mengingat keberagaman agama yang ada di Indonesia, Benny menyebut Indonesia harus menjadi poros bagi tatanan dunia baru yang penuh dengan perdamaian.

"Hubungan antar agama semakin lama makin harmonis, semakin baik dan semakin banyaknya dialog.
Indonesia merupakan poros bagi tatanan dunia baru dengan penuh perdamaian," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kebdepan bangsa Indonesia harus menyusun nilai-nilai perdamaian dunia yang diikat dalam dunia global guna menjamin kebebasan dalam ibadah serta mencegah dari prasangka buruk dan stigma buruk sejarah.

"Ke depan Indonesia mampu menjembatani dialog-dialog untuk melakukan misi perdamaian," kata Benny.

Selain itu, Benny juga menyampaikan bahwa negara Vatikan yang menjadi kiblat agama Katolik, memandang terorisme sama sekali tak ada hubungannya dengan agama manapun, termasuk Islam.

Duta Besar Indonesia Untuk Swedia, Bagas Hapsoro mengungkapkan bahwa terdapat banyak persamaan negara Swedia dengan Indonesia. Salah satunya memiliki dan menjunjung tinggi kemajemukan dan perlindungan HAM, terlebih Indonesia dipercaya menjadi anggota Dewan HAM PBB.

Menurutnya, islamophobia yang berkembang di Eropa muncul akibat kesalahan memahami agama islam. "Indonesia mempunyai modal untuk memperlihatkan Islam yang penuh perdamaian," kata Bagas.

Mengenai HAM dan kemajemukan ini juga disampaikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Norwegia, Todung Mulya Lubis. Menurutnya, tujuan dari komunitas Internasional adalah agar masyarakat dunia dapat hidup dalam persamaan hak dan derajat (equality).

"Pluralisme mulai tergerus dan dikerdilkan dan HAM mulai digerus. Tujuan dalam komunitas internasional ini adalah hidup dengan mempunyai equality," jelasnya.

Terkait global peace dan pembakaran alquran di Norwegia, Todung menyatakan gerakan tersebut hanya provokasi sebagian kelompok untuk mencari sensasi dan perhatian dunia.

"Ini hanya kelompok kecil yang provokasi dan untungnya tidak ada dampaknya terhadap masyarakat luas. Mereka memancing perhatian publik," kata Todung.

tag: #international-politics-forum  #perdamaian-dunia  #indonesia  #internasional  #antonius-benny-susetyo  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
Dompetdhuafa X TS : Qurban
advertisement