Oleh Aris Eko pada hari Kamis, 15 Jan 2026 - 23:57:10 WIB
Bagikan Berita ini :
Sebut Situasi Seperti 1998

Hariman Siregar : Demokrasi Dikendalikan Elit Politik dan Oligarki

tscom_news_photo_1768496230.jpeg
(Sumber foto : )

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)—Tokoh peristiwa Malari dokter Hariman Siregar menilai situasi sosial politik nasional saat ini seperti tahun 1998. Dia menyebut persamaan itu antara lain ditandai oleh oposisi lemah, kritik dinilai sebagai ancaman serta demokrasi dikendalikan elit politik dan oligarki.

“Demokrasi dikendalikan elit politik dan oligarki. Rakyat masih disuruh memilih tapi tidak mengontrol. Demokrasi menjadi legitimasi yang berkuasa,” ujar Hariman Siregar pada acara Ulang Tahun Indemo ke 26 dan peringatan Malari ke 52 di Universitas Paramadina, Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Saat menyampaikan sambutan Hariman mengatakan bahwa saat ini Pemilu masih ada dan parpol masih banyak. Namun dia menilai yang terjadi seperti 1998 yaitu oposisinya lemah, kritik menjadi ancaman, UU dibentuk digunakan untuk kekuasaan, militer dan Polisi kembali masuk ruang sipil.

“Tadinya kan udah ditolak dengan UU kan (militer dan Polisi masuk ruang sipil-red). Pers masih ada tapi takut,” ujar Hariman sembari mengatakan bahwa masih memiliki memori yang kuat tentang Reformasi 1998 bahwa KKN yang membuat berakhirnya kekuasaan pemerintahan Presiden Soeharto.

Hariman juga mengatakan bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah negara dengan institusi yang kuat. Bukan pemimpin yang kuat. Dia mengungkapkan bahwa pendirian Indemo juga dilandasi oleh ide bahwa ‘kita tidak bisa membiarkan kekuasaan berjalan sendiri tanpa memperkuat institusinya.’

“Kita tidak butuh kepemimpinan yang kuat tapi kita butuh negara yang institusinya kuat. Jadi seperti main sepakbola, maka kita nggak usah takut mengganti wasit asal aturannya tetap ditegakkan atau tidak berubah. Kalau hand ya hand, offside ya offside,” ujar Hariman pada acara yang juga dihadiri Menteri Koperasi Fery Juliantoro itu dan Jenderal Gatot Nurmantyo itu.

Pada kesempatan tersebut Hariman juga mengingatkan bahwa ditengah arus populisme politik dan semacamnya, harus disadari bahwa demokrasi itu bukan alat tapi tujuan sehingga tetap menjungjung etika. Selain itu menurut dia masyarakat sipil belum mati dan generasi muda masih tetap kritis namun masih terfragmentasi.

“Siapapun yang berkuasa maka harus memiliki etika yaitu malu melakukan tindakan sewenang-wenang juga malu kalau tidak berbuat baik. Masyarakat sipil belum mati. Ada yang salah selama ini, tapi kita ingin memahaminya,” ujar Hariman mengakhiri sambutannya.(ris)

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
PRAY SUMATRA
advertisement
We Stand For Palestinian
advertisement
DD MEMULIAKAN ANAK YATIM
advertisement