
Sebagai pelaku usaha yang telah melalui beberapa siklus ekonomi di Indonesia, saya merasa perlu menyampaikan keprihatinan dan sekaligus harapan mengenai kondisi ekonomi kita belakangan ini. Dalam berbagai diskusi dengan sesama pengusaha, investor, dan akademisi, sering kali muncul istilah ekstrem “70% PDB keluar dari pasar.” Meskipun secara statistik angka ini hiperbolik, namun ia mewakili sebuah kekhawatiran yang nyata: hilangnya kepercayaan (crisis of confidence) sebagai fondasi utama perekonomian.
Ekonomi, pada hakikatnya, adalah soal kepercayaan. Kepercayaan bahwa regulasi akan stabil, bahwa kontrak akan dihormati, bahwa mata uang kita akan tetap bernilai, dan bahwa masa depan lebih baik dari hari ini. Ketika kepercayaan ini terkikis, maka uang akan diam, investasi akan tertahan, dan mesin ekonomi akan melambat. Inilah awal dari skenario yang digambarkan secara hiperbolis dengan angka 70% itu.
Dari Sudut Pandang Pelaku Usaha
Saya merasakan langsung bagaimana sentimen dan kepercayaan ini bekerja. Investor, baik domestik maupun asing, tidak takut pada risiko yang bisa dihitung. Mereka takut pada ketidakpastian yang tidak terukur. Sebuah kebijakan yang berubah-ubah, sinyal yang tidak konsisten antar lembaga, atau gejolak politik yang mengabaikan dampak ekonomi, akan langsung dibaca sebagai peningkatan risiko yang tidak perlu.
Hasilnya? Modal akan “flight to quality” – lari ke tempat yang lebih aman. Bisa ke dalam bentuk dolar, emas, atau keluar negeri sama sekali. Ini bukan tentang tidak cinta tanah air, tapi ini adalah naluri dasar dalam berbisnis: melindungi aset.
Apa yang Dapat Kita Lakukan Bersama?
Mencegah skenario terburuk jauh lebih baik daripada mengobatinya. Butuh langkah konkret dan kolektif dari semua pemangku kepentingan.
1. Pemerintah dan Otoritas: Kunci Utama Konsistensi dan Komunikasi
· Kebijakan Harus Dapat Diprediksi. Dunia usaha membutuhkan kepastian untuk merencanakan ekspansi, rekrutmen, dan investasi jangka panjang. Perubahan regulasi harus melalui proses konsultasi yang matang, bukan tiba-tiba.
· Koordinasi dan Satu Suara. Harmoni antara kebijakan fiskal (pemerintah), moneter (Bank Indonesia), dan sektor riil sangat penting. Sinergi ini akan menciptakan sinyal kepercayaan yang kuat.
· Fokus pada Fundamental yang Sehat. Pertahankan defisit APBN yang terjaga, utang yang terkendali, dan cadangan devisa yang kuat. Ini adalah tameng terbaik kita di tengah gejolak global.
2. Dunia Usaha: Tetap Produktif dan Adaptif
· Tidak Berhenti Berinovasi. Di tengah tantangan, justru lahir peluang baru. Kita harus terus beradaptasi, meningkatkan efisiensi, dan mencari pasar baru.
· Menjaga Kesehatan Perusahaan. Manajemen kas yang prudent, struktur utang yang sehat, dan fokus pada bisnis inti akan membuat perusahaan lebih tahan guncangan.
· Menjadi Mitra Pemerintah yang Konstruktif. Menyampaikan aspirasi dengan data dan solusi, bukan hanya keluhan. Kita harus menjadi bagian dari solusi.
3. Masyarakat: Konsumen yang Cerdas dan Tenang
· Hindari Panik. Informasi yang tidak jelas dapat memicu kepanikan yang tidak perlu, seperti penarikan dana massal atau penimbunan. Percayalah pada ketahanan sistem perbankan dan keuangan kita yang telah jauh lebih kuat.
· Konsumsi yang Bijak. Tetap beraktivitas ekonomi dengan bijak sesuai kebutuhan. Perekonomian digerakkan oleh transaksi. Kebekuan konsumsi akan memperparah keadaan.
Membangun Ketahanan untuk Masa Depan
Kita tidak bisa menghindari badai ekonomi global, tetapi kita bisa membangun kapal yang lebih kokoh. Diversifikasi ekonomi adalah suatu keharusan. Ketergantungan pada satu-dua sektor atau komoditas membuat kita rentan. Pengembangan UMKM, industri pengolahan, ekonomi digital, dan sektor jasa kreatif harus dipercepat.
Infrastruktur yang memadai, birokrasi yang efisien, dan sumber daya manusia yang unggul adalah fondasi jangka panjang untuk menarik investasi yang berkualitas dan menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan.
Penutup: Kepercayaan adalah Mata Uang yang Paling Berharga
Pada akhirnya, angka 70% itu adalah sebuah peringatan. Peringatan bahwa kepercayaan adalah aset ekonomi yang paling mahal dan paling mudah menguap. Mari kita jaga bersama aset vital ini.
Dengan kerja sama erat antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, dengan komitmen pada prinsip tata kelola yang baik, transparansi, dan konsistensi, saya yakin kita tidak hanya akan menghindari skenario-skenario ekstrem, tetapi justru akan membangun momentum untuk lompatan ekonomi Indonesia di masa depan.
Kita memiliki semua potensi untuk itu. Tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan penuh rasa tanggung jawab dan kepercayaan.
Chairul Munawar Tanjung
Pengusaha