
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, mendesak TNI dan Polri mengambil langkah serius, terukur, dan optimal untuk menyelamatkan sembilan warga perempuan, termasuk anak-anak, yang masih disandera kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
TB Hasanuddin meminta Kapolri dan Panglima TNI memberikan perhatian penuh terhadap penanganan kasus tersebut. Seluruh sumber daya yang tersedia harus dikerahkan untuk menemukan dan membebaskan para korban dengan selamat.
“Saya meminta jajaran Polri dan TNI, khususnya Kapolri dan Panglima TNI, agar serius menangani persoalan ini. Lakukan pencarian secara optimal dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia,” kata TB Hasanuddin, Senin (21/9/2026).
TB Hasanuddin juga mendesak Menteri Pertahanan RI dan Menteri Hak Asasi Manusia RI turun tangan secara langsung serta tidak hanya menunggu laporan dari aparat di lapangan. Menurutnya, kedua kementerian harus menjalankan tanggung jawab masing-masing secara konkret karena penyanderaan tersebut telah mengancam keselamatan warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak.
“Menteri Pertahanan harus memastikan koordinasi pertahanan, dukungan intelijen, dan langkah penyelamatan berjalan efektif. Jangan sampai persoalan ini berlarut-larut karena koordinasi yang lemah atau tidak adanya langkah yang tegas. Negara harus hadir dan menunjukkan bahwa keselamatan setiap warga negara tidak dapat ditawar,” tegas TB Hasanuddin.
Ia juga meminta Menteri Hak Asasi Manusia tidak hanya menyampaikan keprihatinan, tetapi aktif mengawal perlindungan para sandera, memantau proses pembebasan, serta memastikan penanganannya tetap menjunjung prinsip kemanusiaan dan hak asasi manusia.
“Menteri HAM harus turun tangan dan mengawal kasus ini secara nyata. Jangan hanya bereaksi setelah jatuh korban. Penyanderaan terhadap perempuan dan anak-anak merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia. Karena itu, pemerintah harus bertindak cepat untuk menyelamatkan korban sekaligus mencegah peristiwa serupa kembali terjadi,” ujarnya.
Menurutnya, proses pencarian dan penyelamatan perlu melibatkan aparat intelijen, pemerintah daerah, serta pihak-pihak terkait. Apabila dibutuhkan, satuan-satuan operasional juga dapat dilibatkan secara terukur dengan tetap mengutamakan keselamatan para sandera.
“Hal ini harus ditangani dengan sungguh-sungguh karena menyangkut masalah kemanusiaan dan keselamatan nyawa. Keselamatan para korban harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
TB Hasanuddin berharap koordinasi antarlembaga dapat dilakukan secara cepat dan efektif sehingga seluruh korban dapat segera ditemukan, dibebaskan, dan dikembalikan kepada keluarga mereka dalam keadaan selamat.
Diketahui, Sembilan warga perempuan, termasuk anak-anak, masih disandera kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Seorang ibu tewas ditembak ketika berusaha mempertahankan anak perempuannya yang dibawa kelompok tersebut.
TNI dan Polri masih mencari keberadaan para sandera serta menyiapkan upaya pembebasan.
Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak membenarkan penyanderaan tersebut berdasarkan informasi yang diterima dari personel Polsek Jila dan keluarga korban. Seluruh warga yang disandera berjenis kelamin perempuan dan beberapa di antaranya masih anak-anak.
Rangkaian peristiwa bermula ketika kelompok bersenjata menyerang pos keamanan di Distrik Jila dari sejumlah arah. Serangan itu memicu kontak tembak dengan aparat sebelum kelompok tersebut mundur menuju kawasan hutan. Dalam pergerakannya, kelompok bersenjata membawa paksa sejumlah warga perempuan.
Komandan Korem 173/PVB Brigjen TNI Vivin Alivianto mengatakan kelompok tersebut awalnya membawa 11 warga. Selain seorang ibu yang meninggal setelah ditembak, satu korban lainnya ditemukan di jurang dan berhasil dievakuasi pada Jumat (21/8/2026). Korban yang mengalami luka itu kemudian dibawa ke rumah sakit di Timika untuk menjalani perawatan.