
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Memiliki akun media sosial tidak otomatis membuat sebuah organisasi bertransformasi secara digital. Di tengah perubahan perilaku masyarakat yang semakin cepat, organisasi keagamaan dituntut mengubah cara berpikir, bekerja dan berkomunikasi bukan sekadar memindahkan aktivitas konvensional ke platform digital.
Hal tersebut mengemuka dalam talkshow “Transformasi Digital dan Masa Depan NU: Digital Disruption dan Masa Depan Organisasi Keagamaan” yang digelar Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital bersama PCNU Kota Tangerang Selatan, Sabtu (8/8/2026), di Graha Aswaja 2, Pusdiklat PCNU Tangsel, Pondok Aren, Tangerang Selatan.
Talkshow menghadirkan Maroli Jeni Indarto, Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Kementerian Komunikasi dan Digital RI, serta Tubagus Asep Nurdin, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tangerang Selatan. Diskusi dipandu Diana Mutiah dan dibawakan oleh Anis Anjani.
Maroli menekankan bahwa transformasi digital bukan sekadar mengubah dokumen fisik menjadi digital atau mengganti pertemuan tatap muka dengan aplikasi pesan. Transformasi harus menyentuh proses kerja, komunikasi, pelayanan, pengelolaan informasi hingga cara organisasi merespons kebutuhan masyarakat.
Bagi NU yang memiliki struktur dan jaringan luas, perkembangan teknologi membuka peluang untuk memperkuat koordinasi sekaligus memperluas jangkauan dakwah. Masyarakat kini tidak hanya memperoleh pengetahuan keagamaan melalui pengajian dan pertemuan langsung, tetapi juga melalui media sosial, video, podcast dan berbagai platform digital.
Namun, luasnya ruang digital juga membawa tantangan. Arus informasi yang cepat membuat kemampuan memeriksa dan mengevaluasi informasi menjadi semakin penting. Karena itu, literasi digital perlu menjadi bagian dari transformasi organisasi. Kehadiran NU di ruang digital tidak cukup hanya aktif membuat konten, tetapi juga harus menghadirkan informasi yang terverifikasi, berkualitas dan bertanggung jawab.
“Digital disruption” juga menuntut organisasi untuk mengevaluasi cara kerja yang sudah berjalan. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mempercepat administrasi, pendataan, pengarsipan, dokumentasi, koordinasi dan pelayanan. Namun, pemanfaatannya harus disertai tata kelola serta perhatian terhadap keamanan data dan informasi.
Tubagus Asep Nurdin menyoroti pentingnya kemampuan organisasi membaca perubahan perilaku masyarakat. Teknologi dapat digunakan untuk menyederhanakan proses kerja dan memperluas akses informasi, tetapi organisasi tidak harus menggunakan seluruh teknologi yang sedang berkembang. Inovasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan, manfaat dan kemampuan organisasi dalam mengelolanya.
Perhatian juga diarahkan pada generasi muda sebagai bagian penting dari masa depan organisasi. Kedekatan generasi muda dengan teknologi dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan media sosial, produksi konten, komunikasi publik, dokumentasi hingga pengembangan inovasi digital.
Namun, transformasi digital tidak berarti meninggalkan generasi sebelumnya. Pengalaman, sejarah, tradisi dan nilai organisasi tetap menjadi fondasi. Kemampuan digital generasi muda justru dapat dipadukan dengan pengalaman generasi senior untuk membangun kolaborasi antargenerasi.
Pada akhirnya, teknologi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperkuat fungsi organisasi. Bagi NU, ruang digital dapat dimanfaatkan untuk memperluas dakwah, memperkuat pendidikan, meningkatkan pelayanan, memperluas komunikasi serta membuka ruang partisipasi yang lebih besar bagi generasi muda.
Tantangannya bukan lagi apakah NU perlu masuk ke ruang digital, tetapi bagaimana NU mengisi ruang tersebut secara strategis dengan informasi yang berkualitas, dakwah yang mencerahkan, komunikasi yang santun dan inovasi yang tetap berpijak pada nilai serta identitas organisasi.
Transformasi digital merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan kemampuan belajar, beradaptasi dan mengevaluasi secara berkelanjutan. Dengan demikian, disrupsi digital tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga ruang bagi organisasi keagamaan untuk memperkuat relevansinya di tengah perubahan masyarakat. Kegiatan ditutup dengan hiburan dari SC Band.