
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin mendorong masyarakat meningkatkan kecakapan digital agar internet dimanfaatkan secara aman. Masyarakat perlu memahami teknologi secara tepat, kritis, etis, dan bertanggung jawab menghadapi perkembangan ruang digital.
Dorongan tersebut disampaikan dalam Sosialisasi Merajut Nusantara BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital bersama Komisi I DPR RI.
Kegiatan bertema “Cakap Bermedia Digital” berlangsung Selasa, 6 Oktober 2026 di Digi Studio, Ciputat Timur, Tangerang Selatan.
Dalam pemaparannya, Nurul Arifin menjelaskan internet kini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari.
Penetrasi internet nasional mencapai sekitar 235 juta pengguna atau 81,72 persen dari total populasi masyarakat Indonesia.
Menurut Nurul, tingginya akses internet harus diimbangi kemampuan menggunakan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab. Masyarakat tidak cukup hanya terkoneksi, tetapi harus memahami manfaat serta risiko yang muncul ruang digital.
Nurul menjelaskan empat pilar literasi digital meliputi Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital, dan Etika Digital. Keempat pilar tersebut menjadi dasar masyarakat menggunakan teknologi secara efektif, aman, santun, dan bertanggung jawab.
Cakap Digital berkaitan kemampuan menggunakan teknologi produktif, sedangkan Aman Digital menekankan perlindungan data pribadi pengguna.
Budaya Digital membangun ruang inklusif, sementara Etika Digital mengajarkan komunikasi santun menghormati hak orang lain.
Nurul menilai tantangan digital semakin kompleks akibat hoaks, ancaman keamanan, dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Masyarakat perlu memeriksa informasi, mengenali risiko, serta mengambil keputusan tepat dalam menggunakan teknologi digital.
Ia mengingatkan pengguna digital agar berpikir kritis sebelum menerima maupun menyebarkan informasi kepada masyarakat luas. Setiap informasi harus diperiksa sumber, konteks, dan kebenarannya sebelum dibagikan melalui platform digital.
Nurul juga mengingatkan pentingnya menjaga password, OTP, data pribadi, serta informasi keluarga dari ancaman. Penggunaan kecerdasan buatan perlu dilakukan bijak dengan tetap melakukan verifikasi terhadap hasil diberikan teknologi.
Masyarakat perlu mewaspadai hoaks, cyberbullying, fitnah, dan ujaran kebencian yang berkembang di ruang digital. Konten negatif dapat berdampak terhadap individu maupun menimbulkan persoalan sosial lebih luas bagi masyarakat.
Dewan Pengawas BAKTI Virgie Baker menekankan pentingnya menghindari disinformasi, defamasi, dan hate speech dalam bermedia. Ketiga konten tersebut dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan, kerugian finansial, serta perpecahan sosial masyarakat.
Ia mengajak masyarakat menerapkan prinsip “Saring Sebelum Sharing” sebelum membagikan informasi digital kepada publik. Pengguna perlu memeriksa sumber, fakta, konteks, foto, video, dan kebenaran informasi terlebih dahulu.
Entrepreneur Ghea Anisa menyoroti pentingnya kesadaran sebelum membuat maupun menyebarkan konten digital. Setiap unggahan menjadi bagian jejak digital yang dapat tersebar melalui proses post, screenshot, dan share.
Ghea mengingatkan pengguna menggunakan tiga filter sebelum publikasi konten yaitu benar, perlu, dan bertanggung jawab. Konten berpotensi menyinggung, membuka privasi, atau belum terverifikasi perlu diperiksa kembali sebelum dipublikasikan.
Ia menegaskan viral tidak selalu berarti benar karena jumlah tayangan bukan jaminan informasi terpercaya. Pengguna perlu melihat sumber, memahami konteks, mencari pembanding, sebelum membagikan informasi kepada masyarakat luas.
Melalui Sosialisasi Merajut Nusantara, masyarakat didorong memanfaatkan teknologi untuk kegiatan positif dan produktif. Ruang digital diharapkan menjadi tempat belajar, berbagi pengetahuan, membangun usaha, serta mengembangkan kreativitas masyarakat.
Kolaborasi BAKTI Komdigi bersama Komisi I DPR RI memperkuat edukasi literasi digital masyarakat Indonesia. Kemajuan teknologi harus diiringi kecakapan, keamanan, etika, dan tanggung jawab dalam penggunaannya.