Oleh Sahlan Ake pada hari Selasa, 22 Sep 2026 - 15:14:18 WIB
Bagikan Berita ini :

‎DPR Fraksi Partai Demokrat Tekanan Pemerintah Antisipasi Urbanisasi yang Ancam Regenerasi Petani dan Sektor Pangan

tscom_news_photo_1790064858.jpg
(Sumber foto : Foto: ist)

‎JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Politisi Partai Demokrat yang duduk di DPR RI Komisi IV DPR RI Bambang Purwanto menyoroti pertanyaan Sekretaris Jenderal United Cities and Local Governments Asia Pacific Bernadia Irawati Tjandradewi mengenai pertumbuhan Kota Global kini berpusat di Asia. Menurutnya Indonesia, proporsi penduduk Perkotaan diproyeksikan mencapai 72,9 persen pada 2045, artinya sekitar tujuh dari sepuluh penduduk Indonesia diperkirakan akan tinggal di wilayah perkotaan.

‎Kata Bambang bilamana prediksi itu benar bagaimana nasib sawah yang selama ini menopang ketahanan pangan bangsa. Tentunya apa harus dilakukan, karena bilamana itu terjadi menjadi khawatiran sektor pangan di tanah air di tengah meningkatnya proyeksi urbanisasi.

‎Untuk menyikapi hal tersebut perlunya peran pemerintah pada sektor pertanian. Terlebih adanya laporan yang menyebut proporsi penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan diproyeksikan mencapai 72,9 persen pada 2045. " Pentingnya pemerintah mengantisipasi diantisipasi pemerintah keberlangsungan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional," tegas anggota DPR Asal dapil Kalimantan Tengah ini.

‎"Artinya pemerintah perlu menyiapkan langkah konkret untuk menghadapi tren tersebut. Bila prediksi ini benar, bagaimana nasib sawah kita yang selama ini menopang ketahanan pangan kita? Dan apa upaya yang harus dilakukan?” kata Bambangdi Gedung DPR RI Senayan, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

‎Menurut Bambang, urbanisasi sejak dulu telah menjadi persoalan serius karena turut menciptakan kesenjangan antara desa dan kota. Kondisi tersebut mendorong masyarakat pedesaan, khususnya generasi muda, berpindah ke kota untuk mencari kehidupan dan pekerjaan yang dianggap lebih baik.

‎“Hal ini akibat semua kegiatan produksi selalu tumbuh di wilayah perkotaan, sehingga wajar generasi muda menyerbu kota untuk mencari pekerjaan. Sementara di desa tidak tumbuh sentra-sentra produksi, hanya produksi pangan di sawah dan ladang yang selama ini dianggap berkubang lumpur dengan mencangkul,” jelasnya.

‎Kata dia gak itu mengakibatkan semua kegiatan produksi selalu tumbuh di wilayah Perkotaan. Hal itu pula yang membuat generasi muda menyerbu Kota untuk mencari pekerjaan." Mereka datang ke Kota, dengan alasan di Desa tidak tumbuh sentra-sentra produksi, hanya produksi pangan di sawah dan ladang yang selama ini dianggap berkubang lumpur dengan mencangkul," ujarnya.

‎"Kondisi ini sudah mulai dirasakan saat ini, apalagi bila terjadi semakin tajam kesenjangan maka urbanisasi akan makin besar tentu kondisi ini harus mulai diwaspadai karena petani kita rata-rata sudah berusia 50 tahun ke atas, ketika generasi mudanya tidak mau menggantikan dapat dipastikan tidak ada petani lagi yang akhirnya produksi padi terhenti tentu akan mengancam ketahanan pangan," tegasnya.

‎Kondisi seperti ini merupakan sinyal berbahaya. Dan bilamana tidak segera disikapi secara cerdas dan tepat oleh Pemerintah akan menimbulkan persoalan baru baik. "Di Pedesaan terkait produksi pangan dan kepadatan penduduk Kota yang tak terkendali dapat menimbulkan masalah serius di Perkotaan. Kemudian perlu revolusi dibidang Pertanian agar menjadi petani yang modern dengan hasil produksi 10 ton per hektar, sehingga menarik minat generasi muda tuk kembali ke Desanya," bebernya.

‎Mnurut dia saat ini revolusi pertanian sudah mulai dibangun secara bertahap dengan menggelontorkan alsintan pra maupun pasca panen termasuk dryer pengering padi bila musim hujan. Penggelontoran alsintan tentu harus sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing agar tepat guna, walaupun belum semua tetapi paling tidak sudah dimulai.

‎Langkah selanjutnya setelah alsintan tentu berikutnya fasilitas bahan bakar subsidi untuk alsintan milik petani dapat kemudahan harus ada tempat bakar Mini di daerah persawahan yang kusus melayani para petani. Selin itu juga perlu dukungan jalan usaha tani ( JUT ) dan jembatan di saluran irigasi untuk memperlancar pergerakan alsintan baik pra panen juga tuk kelancaran pasca panen.

‎"Selanjutnya perlu di dorong juga benih unggul yg lebih produktif dan dapat menghasilan padi minimal 10 ton per hektar agar menarik minat generasi muda tuk terjun di pertanian karena selama ini berdasarkan data BPS produksi rata-rata dikisaran 5,3 ton per hektar sehingga tidak menarik generasi tani tuk bertani karen," tandasnya.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DD BERBAGI
advertisement