
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Rencana Presiden Prabowo Subianto menengahi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memperoleh dukungan pengamat politik hukum dan keamanan Dewinta Pringgodani.
"Rencana Prabowo jadi mediator harus dipercepat agar konflik di Timur Tengah dampaknya tidak bertambah luas," kata Dewinta dalam keterangannya di Jakarta, Senin 9 Maret 2026.
Menurut Dewinta, sebaiknya Prabowo segera terbang ke Teheran, Iran, dan negara di Timur Tengah lainnya yang memiliki Pangkalan Militer AS, seperti Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.
"Undang perwakilan AS dan Iran untuk bernegosiasi agar perang secepatnya dihentikan," kata Dewinta.
Dewinta mengaku optimis, Prabowo yang memiliki hubungan baik dengan AS dan negara-negara di Timur Tengah lainnya, bisa menjadi mediator yang mumpuni.
"Jangan sampai Rusia dan China ikut campur membantu Iran baru dilakukan mediasi. Nanti bakal makin runyam," kata Dewinta.
Dewinta melihat, sejauh ini Rusia dan China baru berperan sebatas di belakang layer membantu Iran yang digempur habis-habisan oleh Isrel-AS sejak 28 Februari 2026.
Di sisi lain, Dewinta melihat sebuah kewajaran apabila Iran melancarkan serangan balasan ke Tel Aviv dan pangkalan militer AS di negara-negara Teluk, dengan merujuk pada hak membela diri sesuai Pasal 51 Piagam PBB.
Kawasan Timur Tengah kini berada dalam konfrontasi militer besar menyusul serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
"Keterlibatan Indonesia sebagai mediator dapat menjadi titik balik bagi stabilitas kawasan," kata Dewinta.
Hingga kini, belum ada keputusan tegas dari dua kubu yang berkonflik, yakni Israel-Amerika Serikat dan Iran usai tawaran diberikan.