Oleh Tim Redaksi TeropongSenayan pada hari Kamis, 26 Mar 2026 - 12:07:54 WIB
Bagikan Berita ini :

MINYAK, DARAH, DAN STANDAR GANDA | Dari Teheran ke Jakarta: Ketika Perang Besar Dimainkan, Indonesia Dipaksa Membayar

tscom_news_photo_1774501674.jpeg
(Sumber foto : )

Ledakan pada 28 Februari 2026 di Iran bukan sekadar dentuman militer. Ia adalah suara retaknya sebuah tatanan dunia.

Serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel itu membuka satu kenyataan yang selama ini disembunyikan di balik diplomasi:

> Dunia tidak lagi diatur oleh hukum, tetapi oleh kekuatan.

Dan dari titik itu, cerita besar ini dimulai.


Babak I: Agresi yang Diberi Nama “Pertahanan Diri”

Dalam hukum internasional, menyerang negara lain tanpa mandat jelas adalah agresi.

Namun ketika yang melakukannya adalah kekuatan Barat, istilahnya berubah:

> self-defense.

Standar ganda ini bukan kebetulan. Ia adalah pola.

Rusia menyerang Ukraina → dihukum

Iran mengembangkan nuklir → disanksi

Tapi Iran diserang → dibenarkan

Di sinilah hukum internasional kehilangan netralitasnya.

Babak II: Lobi yang Menggerakkan Perang

Di balik keputusan militer, ada kekuatan yang tidak terlihat.

Salah satunya adalah:

American Israel Public Affairs Committee


Lobi ini selama puluhan tahun:

Mempengaruhi Kongres AS

Menentukan arah kebijakan luar negeri

Menjaga kepentingan Israel sebagai prioritas utama


Tokoh seperti:

Benjamin Netanyahu


secara konsisten mendorong narasi keras:

> Iran bukan untuk diajak bicara, tetapi untuk dihentikan.

Dalam konteks ini, perang bukan lagi opsi terakhir—tetapi bagian dari strategi.

Babak III: Iran Membalik Papan Permainan

Berbeda dari masa lalu, Iran tidak hanya bertahan.

Ia menyerang balik—militer dan diplomasi.

Iran menuntut:

Reparasi perang

Penutupan pangkalan militer AS

Jaminan keamanan

Penghapusan sanksi

Ini adalah perubahan besar:

Dari negara yang ditekan → menjadi negara yang menekan.

Babak IV: Selat Hormuz — Tombol Kiamat Energi Dunia

Iran memainkan kartu paling strategis:

Selat Hormuz.

Jalur ini:

Menyalurkan ±20% minyak dunia

Menjadi titik lemah ekonomi global


Ancaman Iran sederhana:

> Jika kami tidak aman, dunia juga tidak akan aman.

Dan dunia langsung bereaksi.

Babak V: Proposal Donald Trump — Damai atau Tekanan?

Di tengah eskalasi, Washington menawarkan “jalan damai”.

Namun isi proposal tersebut:

Iran harus menghentikan program nuklir

Membongkar fasilitas strategis

Menghentikan pengaruh regional


Sebagai imbalan:

Pelonggaran sanksi

Akses ekonomi terbatas

Yang Tidak Disebutkan:

Tidak ada reparasi

Tidak ada pengakuan kesalahan

Tidak ada jaminan keamanan kuat


Ini bukan negosiasi setara.

Ini adalah:

> permintaan menyerah yang dibungkus diplomasi.

Babak VI: Respons Iran — Dingin Tapi Menggigit

Iran tidak bereaksi keras.

Ia justru:

Menolak dengan tenang

Menyebut proposal tidak adil

Menuntut negosiasi setara


Pesannya jelas:

> “Kami diserang, bukan kalah.”

Ini menandai perubahan psikologis besar dalam geopolitik global.

Babak VII: Standar Ganda Barat Terbuka Lebar

Peristiwa ini memperjelas sesuatu yang lama disadari banyak negara:

Barat:

Menggunakan hukum internasional saat menguntungkan

Mengabaikannya saat tidak


Ini bukan lagi hipotesis. Ini realitas.

Dan dunia mulai kehilangan kepercayaan.

Babak VIII: Dunia Multipolar Mulai Terbentuk

Negara-negara Global South:

Tidak lagi otomatis mendukung Barat

Mulai bersikap independen


Kekuatan seperti China dan Rusia:

Mendapat ruang lebih besar


Dunia bergerak dari:

Unipolar → Multipolar


Namun transisi ini penuh risiko konflik.

Babak IX: Indonesia — Penonton yang Selalu Membayar

Indonesia tidak terlibat dalam perang.

Namun dampaknya langsung terasa.

Energi: Ketergantungan yang Mahal

Indonesia masih:

Mengimpor minyak

Bergantung pada pasar global


Ketika harga naik:

Subsidi membengkak

APBN tertekan


Konflik jauh menjadi beban dekat.

Inflasi: Perang Masuk ke Dapur

Harga energi naik →
Transportasi naik →
Pangan naik →

Rakyat kecil menanggung akibatnya.

Rupiah: Rapuh di Tengah Gejolak

Ketika krisis global:

Modal keluar

Rupiah melemah

Impor makin mahal

Babak X: Krisis sebagai Cermin Kegagalan Strategis

Konflik ini membuka fakta:

Indonesia belum:

Mandiri energi

Kuat secara ekonomi global

Siap menghadapi shock eksternal


Ini bukan sekadar krisis global.

Ini adalah: cermin kelemahan domestik.

Epilog: Dunia yang Keras, Pilihan yang Terbatas

Perang ini bukan sekadar konflik militer.

Ia adalah:

Pertarungan narasi

Perebutan kekuasaan

Ujian moral global


Dan di tengah semua itu, satu kesimpulan menjadi tak terhindarkan:

> Yang kuat menentukan aturan.
Yang lemah menanggung akibat.


Pertanyaan untuk Indonesia

Apakah kita akan:

Terus menjadi penonton?

Atau mulai membangun kekuatan sendiri?


Karena dalam dunia yang berubah cepat ini:

> Netralitas tanpa kekuatan hanyalah ilusi.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
IDUL FITRI M HEKAL
advertisement
IDUL FITRI AHMAD NAJIB
advertisement
IDUL FITRI SINGGIH
advertisement
IDUL FITRI SOKSI
advertisement
Lainnya
Opini

Menutup Lima Jalur Haram Karier Pejabat: Ujian Awal Pemerintahan Prabowo

Oleh Muhammad Said Didu
pada hari Selasa, 17 Mar 2026
Di negeri yang konon menjunjung tinggi demokrasi dan meritokrasi, kita justru menyaksikan ironi yang berulang: jabatan publik tidak lagi menjadi hasil dari kompetensi, integritas, dan rekam jejak, ...
Opini

Yuan, Minyak, dan Perang: Ketika Iran Mengguncang Dominasi Dolar dan Membuka Topeng Oligarki Global

Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Namun yang lebih berbahaya: dunia juga tidak lagi jujur. Di balik narasi “demokrasi”, “HAM”, dan “stabilitas ...