Opini
Oleh Yudi Latif pada hari Selasa, 14 Apr 2026 - 10:17:59 WIB
Bagikan Berita ini :

Negara Cerdas

tscom_news_photo_1776136679.jpg
(Sumber foto : )

Saudaraku, para pemikir kenegaraan lintas zaman dan lintas mazhab cenderung menyepakati hubungan integral antara negara dan pengetahuan.

Negara sendiri didefinisikan sebagai organisasi rasional dari masyarakat. Bahkan Hegel menyatakan bahwa negara merupakan penjelmaan dari pikiran. Michel Foucault menegaskan, “Pemerintah, oleh karena itu, memerlukan lebih dari sekadar usaha mengimplementasikan prinsip-prinsip umum pemikiran, kebijaksanaan, dan kehati-hatian. Pengetahuan spesifik juga sangat diperlukan: pengetahuan yang konkret, tepat, dan terukur.”

Membanguan negara harus melalui cara bagaimana kedaulatan menyatakan dirinya dalam bidang pengetahuan dan kebijaksanaan. Negara dapat dipandang sebagai mesin-pengumpul kecerdasan (intelligence-gathering machine). Kedekatan antara negara dan kecerdasan, dan bahwa keselamatan negara ditentukan oleh kecerdasan, terlihat dari pemahaman umum yang cenderung mengaitkan istilah “intelijen” (intelligence) dengan badan inteligen negara, seperti Badan Intelijen Negara (BIN).

Suatu negara yang dibangun tanpa landasan kecerdasan dan pengetahuan tak ubahnya seperti istana pasir. Oleh karena itu, jika demokrasi kita maksudkan sebagai jalan kemaslahatan bangsa, maka jalan sesat demokrasi dalam kendali plutokrasi-oligarki berbasis manipulasi emosi harus dihentikan lewat cara membangun demokrasi meritokratis dengan memulihkan smart power di bawah kepemimpinan intelektual—yang menjunjung tinggi pengetahuan dan nilai.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DOMPET DHUAFA KURBAN 2026
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Ketika Risiko Fiskal dan Rupiah Tak Lagi Bisa Dianggap Angin Lalu

Oleh Miranda S. Goeltom
pada hari Kamis, 07 Mei 2026
Ada kecenderungan di ruang publik bahwa setiap peringatan mengenai kondisi ekonomi nasional selalu dianggap berlebihan, pesimistis, atau bahkan anti-pemerintah. Padahal dalam ilmu ekonomi, ...
Opini

Ketika Beban Utang Membesar dan Rupiah Tertekan: Alarm Fiskal Indonesia 2026

Tahun 2026 tampaknya bukan tahun yang mudah bagi perekonomian Indonesia. Di tengah perlambatan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, dan tekanan pasar keuangan internasional, Indonesia ...