
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia bersama Komisi I DPR RI kembali menyelenggarakan Webinar Literasi Digital dengan tema “Ketahanan Pangan”, Senin (15/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Digi Studio, Ciputat Timur, Tangerang Selatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya ketahanan pangan di tengah perkembangan teknologi digital dan berbagai tantangan global yang terus berkembang.
Webinar menghadirkan Dave Akbarshah Fikarno Laksono sebagai narasumber utama, didampingi Dr. Anton Zulkarnain Sianipar, M.Pd., selaku dosen dan peneliti, serta Hendri Suwarsono, M.Si., sebagai akademisi. Acara dipandu oleh moderator Wirananda Goemilang dan MC Azizah, serta dimeriahkan penampilan Happy Monday Band.
Dalam pemaparannya, Dave Akbarshah Fikarno menegaskan bahwa ketahanan pangan saat ini tidak lagi hanya berbicara mengenai produksi pertanian semata, melainkan telah menjadi isu strategis yang berkaitan dengan transformasi digital, perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, serta ketahanan nasional secara menyeluruh.
Menurut Dave, dunia saat ini menghadapi tantangan besar berupa peningkatan kebutuhan pangan global seiring pertumbuhan jumlah penduduk, perubahan iklim yang mengganggu produktivitas pertanian, serta tingginya kehilangan hasil pangan akibat rantai distribusi yang belum efisien. Oleh karena itu, Indonesia harus mulai mengoptimalkan teknologi digital sebagai bagian dari solusi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Transformasi digital harus menjadi fondasi baru dalam pembangunan sektor pangan Indonesia. Teknologi memungkinkan pertanian menjadi lebih presisi, lebih efisien, dan mampu meningkatkan produktivitas sehingga kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan,” ujar Dave.
Dave menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi seperti Internet of Things (IoT), sensor pertanian, sistem irigasi otomatis, pemantauan cuaca berbasis data, hingga platform pemasaran digital dapat membantu petani meningkatkan hasil produksi sekaligus memperluas akses pasar.
Menurutnya, digitalisasi sektor pangan juga akan memperkuat kemampuan pemerintah dalam memantau ketersediaan stok pangan secara nasional sehingga kebijakan dapat diambil secara lebih cepat dan tepat sasaran.
Lebih lanjut, Dave menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital di sektor pangan memerlukan dukungan pembangunan infrastruktur digital yang merata hingga wilayah pedesaan.
Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya petani dan pelaku usaha pangan, harus menjadi prioritas agar mereka mampu memanfaatkan teknologi secara optimal.
“Ketahanan pangan bukan hanya soal menghasilkan pangan sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana memastikan masyarakat dapat mengakses pangan yang cukup, aman, terjangkau, dan berkelanjutan. Untuk itu, teknologi harus hadir sebagai alat pemberdayaan yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat kemandirian pangan bangsa,” tegasnya.
Sementara itu, Dr. Anton Zulkarnain Sianipar menjelaskan bahwa literasi digital memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan di era modern. Menurutnya, kemampuan masyarakat dalam mengakses, memahami, dan memanfaatkan informasi digital dapat membantu meningkatkan efisiensi produksi, distribusi, dan konsumsi pangan.
Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi dalam pengembangan smart farming, urban farming, serta digitalisasi pengelolaan pangan keluarga sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional.
Di sisi lain, Hendri Suwarsono menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya diukur dari ketersediaan stok pangan nasional, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk mengakses pangan yang cukup, aman, dan bergizi.
Ia mengingatkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara konsep ideal ketahanan pangan dan realitas yang dihadapi masyarakat, termasuk persoalan fluktuasi harga, kerentanan petani, dampak perubahan iklim, serta ketergantungan terhadap impor beberapa komoditas strategis.
Melalui webinar ini, Komdigi dan Komisi I DPR RI berharap masyarakat semakin memahami bahwa ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama. Kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci untuk membangun sistem pangan yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan di tengah perkembangan teknologi dan tantangan global yang terus berubah.
Sebagai bagian dari program Literasi Digital Nasional, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk memanfaatkan teknologi digital secara produktif dalam mendukung pembangunan sektor pangan, sehingga cita-cita mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia dapat tercapai secara berkelanjutan.