Opini
Oleh Didi Irawadi Syamsuddin, S.H.,LL. M pada hari Jumat, 24 Jul 2026 - 08:31:39 WIB
Bagikan Berita ini :

Menyuruh Rakyatnya Sendiri Pindah Negara, Narasi Buruk Seorang Presiden

tscom_news_photo_1784856699.jpg
Didi Irawadi Syamsuddin Politikus Partai Demokrat (Sumber foto : Istimewa)

Seorang Presiden dipilih bukan untuk menyuruh rakyatnya pergi, melainkan untuk memastikan rakyatnya tetap punya alasan mencintai dan bertahan di negerinya sendiri.

Ketika rakyat mengeluhkan harga pangan yang semakin mahal, sulitnya mencari pekerjaan, nasib guru yang belum sejahtera, rupiah yang terus tertekan, serta investor yang lebih tertarik menanamkan modal di negara tetangga, tugas Presiden bukan membalas dengan sindiran.

Presiden harus menjawab dengan kebijakan.

Sebab istana bukan panggung untuk adu nyinyir. Kekuasaan bukan mikrofon untuk berkata, “Kalau tidak suka, pindah saja.” Presiden bukan komentator media sosial yang cukup menjawab kritik dengan gaya:

Nye, nye, nye…

Rakyat tidak sedang merengek. Rakyat sedang menyampaikan kenyataan hidup.

Mereka berbicara tentang harga beras, minyak goreng, telur, dan kebutuhan pokok yang semakin menguras pendapatan. Mereka bertanya tentang program Makan Bergizi Gratis yang harus dijalankan secara aman, tepat sasaran, transparan, dan tidak menjadi ladang proyek bagi segelintir orang.

Mereka juga mempertanyakan Koperasi Desa Merah Putih: apakah benar-benar akan memperkuat ekonomi rakyat, atau sekadar menjadi program besar dengan spanduk besar, anggaran besar, tetapi manfaat yang belum tentu besar?

Di ruang lain, guru honorer masih berjuang dengan penghasilan yang jauh dari layak. Para sarjana mengirim lamaran ke mana-mana tanpa kepastian. Pabrik melakukan efisiensi, lapangan kerja semakin ketat, sementara sebagian investor memilih negara tetangga yang menawarkan kepastian hukum, birokrasi yang lebih sederhana, dan iklim usaha yang lebih meyakinkan.

Dalam keadaan seperti itu, rakyat membutuhkan pemimpin yang mendengar, bukan pemimpin yang mudah tersinggung.

Kritik rakyat bukan tiket keberangkatan ke luar negeri. Kritik adalah alarm agar pemerintah tidak terus tertidur dalam kenyamanan kekuasaan.

Presiden seharusnya memanggil para menteri dan bertanya: mengapa harga pangan masih mahal? Mengapa rupiah terus tertekan? Mengapa penciptaan lapangan kerja belum sebanding dengan jumlah pencari kerja? Mengapa kesejahteraan guru masih tertinggal? Mengapa investor lebih percaya kepada negara tetangga?

Itulah pertanyaan seorang kepala negara.

Bukan menyuruh rakyat mengepak koper.

Solusinya jelas: stabilkan harga pangan melalui pembenahan rantai distribusi dan pemberantasan mafia pangan; evaluasi total program MBG agar aman, bergizi, transparan, dan tidak membebani anggaran secara serampangan; pastikan Koperasi Desa Merah Putih tumbuh dari kebutuhan masyarakat, bukan instruksi politik dari atas.

Pemerintah juga harus memperbaiki kepastian hukum, menyederhanakan perizinan, menjaga stabilitas ekonomi, mengurangi pemborosan anggaran, dan menciptakan iklim investasi yang sehat. Kesejahteraan guru harus menjadi prioritas nyata, bukan sekadar bahan pidato tahunan. Pendidikan vokasi dan penciptaan lapangan kerja harus disesuaikan dengan kebutuhan industri, bukan hanya menghasilkan ijazah dan pengangguran baru.

Seorang Presiden harus berbenah ketika rakyat mengeluh. Bukan marah karena rakyat berani mengeluh.

Karena rakyat tidak membutuhkan Presiden yang pandai menyindir. Rakyat membutuhkan Presiden yang mampu menyelesaikan masalah.

Jangan menyuruh warga pindah negara.

Perbaikilah negaranya, agar tak seorang pun merasa perlu meninggalkannya.

#PresidenHarusMendengar
#RakyatButuhSolusi
#JanganSuruhPindahNegara
#DengarSuaraRakyat
#HargaPangan
#LapanganKerja
#KesejahteraanGuru
#EkonomiIndonesia
#NegaraHukum
#SupremasiHukum
#GoodGovernance
#KeadilanSosial
#ReformasiBirokrasi
#InvestasiIndonesia
#PemerintahanBersih
#IndonesiaMaju
#DemokrasiSehat
#SuaraRakyat
#BangunNegeri
#Indonesia

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DD BERBAGI
advertisement
HUT RI M HAEKAL 2026
advertisement
HUT RI SOKSI 2026
advertisement
HUT RI H. IWAN D ARAS 2026
advertisement
HUT RI BAMBANG PATIJAYA
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Mimpi Indonesia Emas di Bawah Atap Sekolah Reot & Bocor

Oleh Didi Irawadi Syamsuddin, S.H.,LL. M
pada hari Selasa, 11 Agu 2026
Indonesia sedang menaruh harapan besar pada tahun 2045. Kita menyebutnya Indonesia Emas: sebuah negeri maju, ditopang generasi unggul, ekonomi yang kuat, teknologi modern, dan sumber daya manusia ...
Opini

Jajak Pendapat Marquette Tunjukkan Skeptisisme Publik AS Terhadap Konflik Iran dan Dukungan ke Israel

Sebuah jajak pendapat terbaru yang dirilis oleh Fakultas Hukum Marquette mengindikasikan adanya skeptisisme signifikan di kalangan publik Amerika Serikat terkait konflik dengan Iran dan kebijakan ...