Oleh Sahlan Ake pada hari Selasa, 18 Agu 2026 - 14:05:21 WIB
Bagikan Berita ini :

Menguak Praktik Calo Alutsista Dengan Narasi Patriotisme

tscom_news_photo_1787036721.jpg
Tank TNI (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Dibalik kemegahan parade Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) TNI di hari jadi TNI, sesungguhnya terdapat sebuah ekosistem bisnis pertahanan yang jarang terlihat oleh publik.

Nilainya mencapai triliunan rupiah dan melibatkan banyak pihak, mulai dari produsen senjata, pemerintah, perusahaan nasional, konsultan, agen, hingga perantara. Peran perantara dalam pengadaan alutsista pada dasarnya bukan sesuatu yang otomatis melanggar hukum.

Mereka bukan insinyur ahli senjata, bukan militer yang berpengalaman terlibat dalam operasi militer, tetapi mereka dengan piawai menggrogoti APBN dengan nilai fantastis. Mereka adalah parasit dalam sistem pertahanan negara yang di benaknya hanya tersimpan memori sikat uang negara, soal pertahanan negara urusan belakangan.

"Inilah realitas bisnis Alutsista di negeri ini, jauh dari perkiraan publik bahwa bisnis Alutsista adalah domain pemerintah, atau dilakukan G to G. Peran broker Alutsista (middlemen) sangat sentralistik, untuk menentukan peralatan militer yang mana harus dibeli, dari perusahaan mana dan berapa nilai kontraknya," jelas Praktisi Intelijen Sri Radjasa, Selasa (18/7/2026).

Sri Radjasa mengungkapkan bagaimana sekelompok warga sipil yang dibantu para purnawirawan, memonopoli proyek pembelian Alutsista bernilai triliunan Rupiah? Modus yang mereka lakukan adalah kejahatan terorganisasi yang berlindung di balik narasi “rahasia negara” dan “nilai patriotisme”.

"Langkah awal para "calo" Alutsista melakukan operasi pra-tender. Oleh karenanya proses tender dan kebutuhan yang akan dibeli, merupakan desain yang disiapkan para calo," katanya.

Sri megatakan mereka juga melakukan lobby secara intens dengan perwira militer di markas besar TNI.

"Target para calo adalah memastikan dokumen spesifikasi teknik (Spektek) sesuai dengan desain yang telah mereka siapkan," katanya.

Spektek akan berisi keharusan membeli jenis Alutsista dan pabrik yang ditentukan calo. Hasil tender nantinya sudah bisa ditebak, hanya akan ada satu produk milik broker yang dinyatakan lulus persyaratan administrasi. Kompetisi bisnis tidak lebih sekedar basa-basi prosedural.

Pertanyaan kritis yang muncul di benak publik, mengapa Kemenhan tidak membeli langsung ke pabrik industri Alutsista, untuk menghemat anggaran negara? Sekali lagi para calo satu langkah lebih licik dari pemerintah.

Jauh sebelumnya para calo telah mendatangi pabrik Alutsista di luar negeri, dalam rangka membeli hak ekslusif berupa letter of authorization (surat keagenan tunggal) untuk teritori Indonesia. Ketika para jenderal mengunjungi pabrik Alutsista di luar negeri, dalam rangka membeli langsung, pihak pabrik akan mengatakan, “Mohon maaf sesuai hukum perdagangan internasional, kami sudah memiliki perwakilan resmi di Indonesia, silahkan bertransaksi dengan perwakilan kami”.

"Para calo juga amat cerdas mengeksploitasi budaya “hirarki komando” dalam TNI. Oleh sebab itu hampir semua perusahaan bisnis Alutsista, dipimpin oleh purnawirawan jenderal bintang tiga atau empat sebagai komisaris utama," ungkapnya.

Ia menyatakan dalam penjualan Alutsista tidak dikenal harga eceran tertinggi (HET), oleh karenanya mudah disiasati oleh para calo, dengan menggunakan pendekatan manipulasi psikologis tingkat tinggi.

Saat ini AS memberlakukan undang-undang CAATSA (Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act), berisi sanksi bagi negara-negara yang ingin membeli Alutsista dari rusia.

"CAATSA bagi para calo Alutsista, adalah peluang untuk menaikan setinggi-tingginya harga Alutsista dari Rusia. Para calo akan menawarkan premi siluman dengan harga 300% lebih mahal, dengan dalih ada biaya untuk menyembunyikan transaksi dari radar intelijen AS, agar ekonomi kita tidak dihancurkan oleh sanksi," ucapnya.

Transaksi bisnis Alutsista dengan margin triliunan Rupiah yang dibayarkan dengan US Dollar, tentunya akan membuat alarm sanksi berbunyi. Para calo mensiasati dengan skema imbal beli (barter), negara membayar dengan komoditas seperti minyak CPO atau kopi.

Pada tahapan pembayaran dengan imbal beli, para calo lagi-lagi memainkan kelicikannya untuk menggerogoti uang negara, melalui penilaian harga bahan pokok. Para calo akan menekan harga komoditas bahan pokok semurah mungkin, sehingga pemerintah harus menyiapkan volume bahan pokok jauh lebih besar sebagai alat tukar Alutsista.

Fenomena menggerogoti uang negara disektor bisnis Alutsista, menjadi benalu yang dapat membuat ekonomi negara terpuruk. Apalagi sudah menjadi rahasia umum, ketika pembelian Alutsista dimonopoli oleh Republik Korpora Indonesia (RKI) yang dikomandoi Norman Joesoef.

Ketika kritik datang menerpa keberadaan para calo Alutsista, mereka mengklaim, “Tingginya harga Alutsista, demi mengamankan embargo ekonomi yang mematikan”.

Para calo Alutsista bahkan berani mengklaim, bahwa apa yang mereka kerjakan tidak lepas dari semangat patriotisme, demi meningkatkan kekuatan TNI menjaga kedaulatan negara.

Pertanyaan kritis publik, apakah semangat patriotisme harus dibayar mahal hingga triliunan Rupiah menguras uang negara? Sementara kemerdekaan negara ini, dibayar dengan darah dan nyawa rakyat jelata, tetapi tidak pernah menuntut balas budi.

tag: #tni  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DD BERBAGI
advertisement
HUT RI M HAEKAL 2026
advertisement
HUT RI SOKSI 2026
advertisement
HUT RI H. IWAN D ARAS 2026
advertisement
HUT RI BAMBANG PATIJAYA
advertisement
HUT RI A NAJIB 2026
advertisement