Oleh Sahlan Ake pada hari Selasa, 03 Nov 2026 - 13:34:15 WIB
Bagikan Berita ini :

Komdigi Dorong Santri Cakap Digital, Kuasai Teknologi dengan Tetap Menjaga Akhlakul Karimah

tscom_news_photo_1793687655.jpg
Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi, Sonny Hendra Sudaryana (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendorong santri meningkatkan kecakapan digital agar mampu memanfaatkan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab. Penguasaan teknologi tersebut diharapkan tetap berlandaskan etika, akhlakul karimah, serta nilai-nilai keislaman dalam kehidupan bermasyarakat.

Upaya tersebut dibahas dalam Seminar Wawasan, Lokakarya Intensif, dan Pendampingan Berkelanjutan yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Komdigi. Kegiatan bertema Pemberdayaan Santri Cakap Digital tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Raudlatul ‘Ulum Arrahmaniyah, Madura, Jumat, 9 Oktober 2026.

Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi, Sonny Hendra Sudaryana, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi digital dan kecerdasan buatan. Potensi tersebut perlu didukung pemerataan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengembangan inovasi teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ia menegaskan, transformasi digital tidak cukup hanya meningkatkan penggunaan platform, tetapi harus mendorong produktivitas sektor ekonomi riil. Sektor tersebut mencakup pertanian, perikanan, manufaktur, serta usaha mikro, kecil, dan menengah yang membutuhkan dukungan teknologi digital.

Sonny juga mengingatkan pemanfaatan kecerdasan buatan perlu memperhatikan keamanan data, penyalahgunaan teknologi deepfake, kesenjangan digital, serta kedaulatan digital. Pengembangan teknologi harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan etika dan nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia.

Selain itu, Sonny memperkenalkan Garuda Spark Innovation Hub sebagai wadah kolaborasi startup, talenta digital, UMKM, akademisi, pemerintah, dan investor. Melalui pendekatan Research, Integration, and Utilization, inovasi diharapkan mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat serta dunia industri.

Sementara itu, akademisi Tajullail menilai media sosial merupakan representasi pesantren yang perlu dikelola secara informatif dan bertanggung jawab. Akun resmi pesantren perlu menampilkan identitas, program pendidikan, prestasi, fasilitas, tradisi, serta nilai-nilai yang menjadi karakter lembaga.

Menurutnya, pengelolaan konten harus disesuaikan dengan kebutuhan audiens, mulai calon santri, wali santri, alumni, hingga masyarakat umum. Materi publikasi dapat mencakup pendidikan, kehidupan santri, prestasi, dakwah, informasi, serta tradisi dan budaya pesantren.

Praktisi akademisi Kang Ali Ridho mendorong santri memanfaatkan media sosial sebagai sarana mengembangkan kreativitas, keterampilan, dan produktivitas. Literasi digital, menurutnya, mencakup kecakapan, etika, keamanan, serta budaya digital yang harus dipahami setiap pengguna.

Santri juga dapat menghasilkan konten tulisan, fotografi, dan video sesuai bakat serta minat masing-masing. Media sosial bahkan membuka peluang ekonomi melalui monetisasi konten, seperti Facebook Pro dan program afiliasi berbagai platform digital.

Adapun pegiat media sosial N. Shalihin Damiri menekankan pentingnya pengelolaan media pesantren melalui visi, misi, dan pembagian tugas. Tim media dapat mengelola bidang pemberitaan, kajian keilmuan, multimedia, serta publikasi kutipan hikmah secara terstruktur.

Ia menambahkan, evaluasi berkala melalui rapat bulanan dan kolaborasi dengan pesantren lain maupun alumni perlu dilakukan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas, konsistensi, serta efektivitas publikasi pesantren di ruang digital.

Shalihin juga mengingatkan akun resmi pesantren tidak boleh digunakan untuk menyebarkan hoaks, fitnah, maupun informasi provokatif. Setiap informasi harus diverifikasi kebenarannya serta mencerminkan etika dan nilai-nilai yang dijunjung lingkungan pesantren.

Melalui kegiatan tersebut, santri diharapkan tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menghasilkan karya digital bermanfaat. Kecakapan tersebut mencakup produksi konten edukatif, pengelolaan media pesantren, serta pemanfaatan peluang ekonomi digital secara bertanggung jawab.

Integrasi teknologi dan akhlakul karimah diharapkan membentuk generasi santri yang adaptif, kreatif, produktif, serta berdaya saing. Dengan demikian, santri dapat berkontribusi dalam transformasi digital nasional tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

tag: #dpr  #pesantren  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DD BERBAGI
advertisement