Bisnis
Oleh Rihad pada hari Sabtu, 19 Des 2020 - 22:08:24 WIB
Bagikan Berita ini :

Komisi VI Nilai Realisasi Investasi Masih Minim

tscom_news_photo_1608390504.jpeg
Ilustrasi pabrik (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Komitmen investasi asing yang tercatat ingin masuk ke Indonesia nyatanya belum banyak direalisasikan investor. Padahal, dalam kondisi saat ini Indonesia membutuhkan banyak investasi besar untuk mendorong perekonomian.

Kondisi tersebut membuat Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat berencana memanggil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia terkait banyaknya komitmen investasi yang belum direalisasikan oleh investor tersebut.

"Katanya komitmen investasi besar, tapi realisasinya minim. Kami perlu duduk dengan mitra kami dari BKPM untuk mengevaluasi sebenarnya ada apa sih. Banyak berita gembira komitmen investasi begitu, tapi realisasinya belum ada,” kata anggota Komisi VI DPR RI, Amin AK, dalam keterangannya, Jumat 18 Desember 2020.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, rencana investasi asing ke Indonesia yang cukup tinggi tidak diimbangi dengan realisasi komitmen investasi.

Ia memaparkan, investor kerap menemui berbagai hambatan merealisasikan rencananya. Selain soal perizinan, lahan dan tenaga kerja, hambatan juga dipicu kurang ketatnya koordinasi antara kementerian dan lembaga sertai hubungan pemerintah pusat dan daerah.

Menurutnya, hal lain yang menjadi pertimbangan investor dalam merealisasikan investasi adalah insentif pajak. Maklum, di tengah kompetisi antar negara dalam memperebutkan investasi, insentif pajak akan menjadi pemanis untuk menambah daya tarik suatu negara.

Itu sebabnya, Yusuf bilang, perlu juga mempertimbangkan pemberian insentif berdasarkan kebutuhan industri yang akan dibidik oleh investor. Tentu, ini membutuhkan usaha yang lebih besar untuk menghitung kebutuhan insentif setiap sektor dan berapa lama imbal hasil masing-masing sektor.

Pemberian insentif dalam rangka menarik investasi tidak bisa dipukul rata. Karena jika ditilik lebih dalam, investor yang berkomitmen untuk berinvestasi datang dari berbagai jenis industri mulai industri manufaktur, barang konsumen hingga produk inovasi seperti mobil listrik. Hal ini menunjukkan bahwa investor membutuhkan jenis insentif yang berbeda.

"Ini mungkin saja dilakukan dalam rangka menarik investasi untuk mendorong masing-masing industri," ujar Yusuf.

tag: #investasi-asing  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
PRAY SUMATRA
advertisement
We Stand For Palestinian
advertisement
DD MEMULIAKAN ANAK YATIM
advertisement
Bisnis Lainnya
Bisnis

Bamsoet : Pelatihan Berkualitas Kunci Daya Saing Pekerja Migran Indonesia

Oleh Aris Eko
pada hari Selasa, 06 Jan 2026
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)— Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Lembaga Pelatihan Bahasa Jepang Indonesia (PELBAJINDO), Bambang Soesatyo, menuturkan ...
Bisnis

Beli Gabah Petani Non Tunai, Bulog Targetkan Data Serapan Nasional Secara Langsung 2026

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)—Mulai 2026, Bulog menerapkan pembelian gabah petani secara digital atau non tunai. Selain untuk keamanan transaksi bagi para petani, pola ini ditargetkan bisa merekam ...