Bisnis
Oleh Rihad pada hari Rabu, 17 Mar 2021 - 16:53:05 WIB
Bagikan Berita ini :

UMKM Sangat Butuh Asuransi Hadapi Resiko Bencana

tscom_news_photo_1615974785.jpeg
UMKM mendapat bantuan BRI (Sumber foto : ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Selama ini pemberdayaan UMKM menekankan pada sisi pembiayaan, sementara proteksi belum menjadi perhatian serius. Padahal, ketika UMKM terpapar risiko, maka sangat sulit untuk mendapatkan pendanaan atau menjadi unbankable. Hal itu disampaikan Fankar Umran, CEO BRI Insurance, dalam sebuah seminar daring bertema "Penguatan UMKM Menuju Ketahanan Ekonomi Nasional" di Jakarta, beberapa waktu lalu.

“Kalau terpapar [risiko] maka sulit dibiayai, turunlah [bantuan] pemerintah. Ada Rp80 triliun kemarin, dana pemerintah untuk kebencanaan, termasuk pemulihan UMKM. Kalau itu diasuransikan, pemerintah tidak perlu turun tangan sebesar itu,” katanya.

Fankar menuturkan, di Indonesia lebih banyak membahas mengenai single risk event dan tidak memberikan tempat yang layak kepada catastrophic event seperti kejadian bencana. Akibatnya, ketika terjadi bencana, banyak pelaku UMKM yang sulit untuk kembali bangkit dengan cepat.

Untuk itu, katanya, menjaminkan risiko catastrophic event sangat penting dibandingkan dengan pilihan mengelola risiko lain. Mentransfer risiko, tegasnya, sangat penting karena pelaku usaha membayar premi kecil untuk mendapatkan jaminan yang besar, sekaligus mempercepat pemulihan dan menghindari rentenir.

“Kalau lihat profil masyarakat yang terjebak rentenir itu kadang menjamin rumahnya. Padahal bunga sangat besar. Pilihannya ialah UMKM harus dilindungi dari sisi kegagalan risiko karena faktor eksternal,” ucapnya.

Peran BRI

Dari sisi perbankan, BRI menjadi salah satu perbankan yang fokus untuk meningkatkan kewirausahaan UMKM. Supari, Direktur Bisnis Mikro PT Bank Rakyat Indonesia (Persero ) Tbk., mengatakan bahwa pihaknya terkena dampak dari pandemi Covid-19 karena sekitar 82% portofolionya ialah sektor UMKM.

“Pada bulan kedua mereka sudah tidak punya tabungan lagi, modal kerja sudah dipakai untuk biaya hidup. Sekarang sudah 1 tahun pandemi, BRI terus membantu untuk meningkatkan daya saing mereka,” katanya.

Supari menyebutkan, tantangan UMKM Indonesia antara lain sekitar 90% masih pada level tradisional, serta rasio wirausahawan yang hanya 3,46%, atau lebih kecil dibandingkan dengan Singapura yang sekitar 7%.

Menurutnya, kontribusi sektor UMKM untuk ekspor juga masih kecil, yakni hanya 14,37% atau lebih rendah dari Vietnam yang sebesar 17%, Thailand 27,4%, ataupun Filipina sebanyak 13,2%.

BRI juga aktif berkontribusi lebih dalam percepatan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Perseroan, katanya, sangat aktif menyalurkan sejumlah program pemulihan ekonomi yang digulirkan pemerintah, seperti restrukturisasi, KUR dan lainnya.

“UMKM memang sangat rentan. Ada yang bisa bertahan, ada yang menemukan titik efisiensi baru sehingga bisa bangkit, ada juga kelompok yang justru tumbuh,” ujarnya.

tag: #bank-bri  #umkm  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DOMPET DHUAFA KURBAN 2026
advertisement
Bisnis Lainnya
Bisnis

Hari Buruh dan Ujian Kepemimpinan Nasional: Saatnya Akselerasi Reformasi Ketenagakerjaan

Oleh Sahlan Ake
pada hari Jumat, 01 Mei 2026
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Momentum peringatan Hari Buruh Internasional pada hari ini 1 Mei 2026 mesti dimaknai lebih dari sekadar seremoni tahunan atau ruang artikulasi tuntutan rutin pekerja. ...
Bisnis

Bamsoet : Pelatihan Berkualitas Kunci Daya Saing Pekerja Migran Indonesia

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)— Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Lembaga Pelatihan Bahasa Jepang Indonesia (PELBAJINDO), Bambang Soesatyo, menuturkan ...