Oleh Bachtiar pada hari Selasa, 17 Agu 2021 - 12:22:10 WIB
Bagikan Berita ini :

Soroti RAPBN 2022, Politikus PKS: Menunjukkan Pemerintah Tidak Optimis

tscom_news_photo_1629177730.jpg
Sukamta Politikus PKS (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Presiden Joko Widodo dalam pidato kenegaraan perihal keterangan RUU Tentang APBN Tahun Anggaran 2022 beserta Nota Keuangannya, Senin, (16/8/2021) mengungkap defisit anggaran di tahun 2022 direncanakan pemerintah sebesar 4,85 persen atau setara Rp 868,0 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Menanggapi hal ini Anggota Badan Anggaran DPR RI, Sukamta menyatakan bahwa defisit ini masih terhitung besar dan bisa berisiko mengingat dampak Covid-19 bisa berlangsung lama.

"Dengan masih kedodorannya pemerintah dalam penanganan pandemi, dampaknya secara ekonomi tentu juga akan lebih panjang. Ini akan menekan ekonomi Indonesia. Pendapatan pemerintah saya prediksi belum akan optimal hingga tahun 2022. Hal ini akan membuat ruang fiskal terbatas untuk melakukan ekspansi fiskal, dan tergerus untuk bayar bunga pokok dan bunga utang. Ini akan menyebabkan pemulihan ekonomi lebih lama," kata Politikus PKS itu dalam keterangan tertulis, Selasa (17/08/2021).

Oleh sebab itu Sukamta memberikan 3 catatan terhadap Nota Keuangan RAPBN 2022.

"Pertama, kalau dilihat dari sisi rencana pendapatan, beberapa tahun terakhir target pendapatan tidak tercapai. Di masa pandemi sudah masuk tahun ke tiga untuk tahun depan, dengan laju ekonomi seperti sekarang ini, ada kekhawatiran ini juga tidak tercapai lagi," sindirnya.

Menurutnya, target pertumbuhan ekonomi 2022 pada kisaran 5 persen hingga 5,5 persen, ini sudah menunjukkan pemerintah tidak optimis.

"Saya kira sangat perlu dilakukan pengawasan khusus dari realisasi pendapatan, bukan hanya belanja. Untuk lebih memastikan pencapaian target pendapatan," jelasnya.

Yang kedua, menurut Sukamta terkait besaran defisit yang masih cukup lebar, perlu disikapi dengan lebih hati-hati.

"Kami sebenarnya berharap agar Pemerintah lebih hati-hati kalau tidak dikatakan konservatif. Mestinya bisa diterapkan belanja berimbang. Sebesar pendapatan, sebesar itu pula yang dibelanjakan. Adapun hutang, mestinya hanya untuk belanja modal agar punya daya ungkit ekonomi," tandasnya.

Catatan ketiga, besaran anggaran untuk mengatasi pandemi covid masih cukup besar yaitu Rp 255,3 triliun dan anggaran pemulihan ekonomi nasional (PEN) sebesar Rp 321 triliun.

"Kita berharap pemerintah membelanjakan dengan cermat dan efisien sehingga bisa menyelesaikan masalah dan tidak disalah gunakan. Kebijakan tambal sulam yang tidak menyelesaikan masalah utama, akan berbahaya jika bermuara pada munculnya "pandemic trap"," ujarnya.

"Sebagaimana pidato Presiden yang mengatakan bahwa virus covid bermutasi terus, maka cara cara mengatasinya juga harus terus berubah. Itu bagus dan perlu diimplementasi di lapangan dengan cerdas dan disiplin, jangan sampai hanya berubah ubah nama dan sebutannya dari PSBB, PPKM, PPKM mikro, PPKM darurat, PPKM berlevel dan seterusnya, sementara yang dilakukan tetap itu-itu juga. Saya jadi ingat kata-kata Einstein, melakukan hal yang sama terus menerus dan mengharapkan hasil yang berbeda, itu adalah kegilaan," sindirnya.

tag: #apbn  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
IDUL FITRI 2024
advertisement
IDUL FITRI 2024 MOHAMAD HEKAL
advertisement
IDUL FITRI 2024 ABDUL WACHID
advertisement
IDUL FITRI 2024 AHMAD NAJIB
advertisement
IDUL FITRI 2024 ADIES KADIR
advertisement
Lainnya
Berita

TB Hasanuddin Mengecam Bentrokan Brimob dan Marinir di Sorong Papua

Oleh Sahlan Ake
pada hari Minggu, 14 Apr 2024
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (p) TB Hasanuddin mengecam insiden bentrokan antara prajurit TNI dengan anggota polisi Brigade Mobil (Brimob) di Kota Sorong, Papua ...
Berita

TB Hasanuddin: Perubahan KKB Jadi OPM Lebih Realistis, Tapi Seluruh Lembaga Negara Harus Sepakat

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (p) TB Hasanuddin mengungkapkan  penyebutan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menjadi Organisasi Papua Merdeka (OPM) memiliki ...