Berita
Oleh Bachtiar pada hari Jumat, 10 Des 2021 - 17:40:58 WIB
Bagikan Berita ini :

Tak Singgung Soal TWK di Hakordia, ICW Kritik Jokowi

tscom_news_photo_1639132858.jpg
Kurnia Ramadhana Peneliti ICW (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Indonesia Corruption Watch (ICW) menyayangkan pidato Jokowi yang sama sekali tidak menyinggung soal polemik Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dalam momentum Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia).

"ICW juga menyayangkan Presiden tidak menyinggung kegaduhan demi kegaduhan yang selalu diciptakan oleh Pimpinan KPK. Satu di antara sekian banyak kegaduhan adalah penyelenggaraan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK)," kata Peneliti ICW Kurnia Ramadhana dalam keterangannya, Jumat (10/12).

Sebagai kepala negara, kata Kurnia, semestinya Jokowi menegur Pimpinan KPK. Sebab, akibat kegaduhan-kegaduhan itu, roda kerja KPK terganggu dan capaiannya juga jauh dari kata ideal.

"Terutama dalam lingkup penindakan," ujarnya.

Diketahui, terdapat 75 pegawai KPK yang dinyatakan tidak lulus TWK. Dari jumlah itu, 18 pegawai dilantik sebagai ASN setelah mengikuti Diklat Bela Negara dan Wawasan Kebangsaan. Sementara seorang telah purnatugas, dan 56 orang lainnya telah diberhentikan per 30 September 2021.

Adapun dari 56 orang itu, 44 di antaranya telah dilantik menjadi ASN Polri bertepatan dengan momentum Hakordia, kemarin. Dua di antanya yakni, eks penyidik senior Novel Baswedan dan mantan Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo

Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM) sebelumnya menyatakan bahwa asesmen TWK sebagai syarat alih status pegawai KPK menjadi ASN mengada-ada.

Peneliti Pukat UGM Zaenur Rohman memandang asesmen TWK menjadi alat cuci tangan Ketua KPK Firli Bahuri untuk menyingkirkan penyidik senior Novel Baswedan dan kawan-kawan dari lembaga antirasuah.

Pasalnya, menurut dia, dalam Pasal 69C UU 19/2019 tentang KPK maupun PP 41/2020 tentang pengalihan pegawai KPK menjadi ASN tidak disebutkan adanya TWK sebagai syarat peralihan status pegawai.

Aturan mengenai asesmen TWK hanya tercantum dalam Peraturan Komisi (Perkom) Nomor 1 Tahun 2021.

Dalam Perkom itu pula, lanjut Zaenur, asesmen TWK dilakukan bekerja sama dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN). Namun pada hakikatnya, pengalihan status tersebut, kata dia, seharusnya tidak perlu melibatkan lembaga lain.

Zaenur memandang, pelibatan lembaga lain dalam proses peralihan status pegawai KPK hanya sekadar melempar bola panas guna membagi beban yang ditanggung Firli dengan pejabat negara lain.

Ia pun berpendapat, alih status ASN pegawai KPK berujung polemik lantaran UU 19/2019 yang menjadi acuan telah bermasalah sejak awal.

tag: #icw  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
PRAY SUMATRA
advertisement
We Stand For Palestinian
advertisement
DD MEMULIAKAN ANAK YATIM
advertisement
Berita Lainnya
Berita

Banjir di Cikarang, Brimob Evakuasi Gendong Lansia

Oleh Sahlan Ake
pada hari Senin, 19 Jan 2026
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) -Tim SAR Batalyon D Pelopor Satuan Brimob Polda Metro Jaya menunjukkan aksi humanis dengan membantu seorang warga lanjut usia yang meminta dipindahkan dari posko pengungsian ...
Berita

Abduh PKB Dorong Kepolisian Gencarkan Patroli Siber untuk Tangani Child Grooming di Media Sosial

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdullah, mendorong Kepolisian Republik Indonesia (Polri), khususnya melalui unit siber, untuk ...