
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-113 Hijriyah Mathla’ul Anwar menjadi momentum penting untuk memperkuat jati diri sekaligus memperluas peran organisasi dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan.
Anggota DPR RI dari Dapil Banten sekaligus kader Mathla’ul Anwar, Dr. KH. Jazuli Juwaini, MA, menyatakan bahwa usia lebih dari satu abad bukan sekadar penanda perjalanan panjang, melainkan refleksi keteguhan gerakan yang lahir dari keprihatinan dan harapan umat.
“Mathla’ul Anwar sejak awal berdirinya pada 1916 di Menes, Banten, telah menegaskan diri sebagai cahaya bagi umat, tidak hanya dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai, akhlak, dan keberpihakan kepada masyarakat kecil,” ujar Jazuli dalam keterangannya, Kamis, 2 April 2026.
Ia menjelaskan, organisasi yang didirikan oleh ulama visioner KH Mas Abdurrahman bersama tokoh seperti KH Entol Mohamad Yasin dan KH Tb Mohamad Sholeh tersebut sejak awal menempatkan pendidikan sebagai instrumen transformasi sosial.
Menurutnya, Mathla’ul Anwar tidak hanya berfungsi sebagai lembaga keagamaan, tetapi juga sebagai gerakan peradaban yang berperan dalam membangun sistem pendidikan yang terstruktur, moderat, dan berorientasi pada pencerahan umat.
Dalam perjalanannya, Mathla’ul Anwar berpegang pada sembilan prinsip dasar, di antaranya berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, menjaga persatuan aqidah, menjunjung toleransi dalam khilafiyah, serta berorientasi pada kemaslahatan umat.
Selain itu, organisasi ini juga didorong untuk mampu berperan dalam kehidupan berbangsa melalui pendekatan siyasah yang bijak serta membangun kolaborasi dengan pemerintah demi kemajuan bersama.
Jazuli menilai, di tengah dinamika zaman yang terus berubah, Mathla’ul Anwar telah menunjukkan kontribusi nyata melalui jaringan lembaga pendidikan yang tersebar luas, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Namun demikian, ia menekankan bahwa usia panjang organisasi juga menuntut adanya transformasi dan konsolidasi internal agar tetap relevan menghadapi tantangan modern, seperti perkembangan teknologi dan perubahan sosial.
“Mathla’ul Anwar harus menjadi entitas yang diperhitungkan, bukan sekadar dihitung. Eksistensi saja tidak cukup, tetapi harus diikuti kualitas, pengaruh, dan kontribusi nyata,” katanya.
Ia menambahkan, momentum Harlah ke-113 ini perlu dimanfaatkan sebagai ruang refleksi untuk memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta merancang program yang adaptif terhadap kebutuhan zaman.
Menurut Jazuli, tantangan terbesar justru kerap berasal dari internal organisasi, sehingga penyatuan potensi dan penguatan semangat kolektif menjadi kunci dalam mendorong peran strategis Mathla’ul Anwar ke depan.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya inovasi dalam dakwah dan pendidikan, termasuk pemanfaatan ruang digital untuk menjangkau generasi muda seperti milenial, Gen Z, dan Gen Alpha.
“Dakwah harus hadir di ruang digital, sementara pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan masa depan,” ujarnya.
Ia menegaskan, Harlah bukan sekadar seremoni, melainkan momentum memperbarui komitmen untuk menjaga dan memperluas peran organisasi dalam membangun umat.
Dengan jati diri yang kokoh dan peran yang terus berkembang, Mathla’ul Anwar diyakini memiliki peluang besar untuk tetap menjadi pelopor pendidikan dan dakwah sosial, baik di tingkat nasional maupun global.