Oleh Fath pada hari Sabtu, 11 Apr 2026 - 16:03:01 WIB
Bagikan Berita ini :

Mulyadi Gerindra Dukung Penuh Menkeu Purbaya Gali Semua Potensi Penerimaan Negara

tscom_news_photo_1775898181.jpg
Mulyadi politikus Partai Gerindra (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Anggota Komisi XI DPR RI, Mulyadi, mendukung penuh sikap tegas Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang memberikan ultimatum kepada para produsen rokok beroperasi secara ilegal agar segera beralih ke jalur legal.

Menurut Politikus Partai Gerindra ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa harus terus menggali semua potensi penerimaan negara termasuk dari keberadaan rokok ilegal.

“Gali semua potensi penerimaan negara,” kata Mulyadi kepada awak media di Jakarta, Sabtu, 11 April 2026.

Meski demikian, Mulyadi meminta, adanya regulasi yang ramah akan investasi dan tetap mengoptimalkan semua potensi penerimaan negara guna mendukung hal tersebut.

“Regulasi yang ramah investasi dan tetap mengoptimalkan semua potensi penerimaan negara,” beber Mulyadi.

Mulyadi juga berharap, tidak ada lagi hengki pengki dengan oknum-oknum dalam mengejar semua potensi penerimaan negara. Mulyadi menegaskan, bahwa saat ini kebocoran anggaran negara harus dapat dihentikan.


“Tidak ada hengki pengki dengan oknum dan kebocoran,” imbuh Mulyadi.

Kejar Optimalisasi Penerimaan Negara dari Sektor Lain

Dalam kesempatan itu, Mulyadi berharap, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga dapat mengejar penerimaan negara dari sektor-sektor lain. Salah satunya, kata Mulyadi, ialah perusahaan aplikasi online berbasis transportasi.

“Perusahaan-perusahaan yang berbasis aplikasi, terutama yang transportasi, itu kan menggunakan fasilitas negara dimanapun (seperti jalan). Sementara itu butuh biaya preservasi jalan, biaya perawatan jalan, itu nilainya puluhan triliun setiap tahun,” beber dia.

“Nah, apakah bisnis-bisnis tersebut sudah di, dalam tanda petik ya, dipelototin atau digarap dan digali potensi penerimaan negaranya sehingga ada kompensasi buat penguatan fiskal kita,” sambung dia.

Selain itu, kata dia, pentingnya menggali potensi penerimaan negara dari daerah-daerah industri di Indonesia. Mulyadi menuturkan, pentingnya mengetahui jumlah produk dari pabrik-pabrik yang berada di daerah industri tersebut.

“Kita kan selama ini percaya saja tentang jumlah produk-produk yang diproduksi di setiap industri Pak Apakah tidak ada teknologi yang bisa men-capture setiap jumlah produk yang mungkin saja melalui teknologi barcode atau apapun untuk menggali sebenarnya berapa banyak produk-produk yang mereka buat dan dibandingkan dengan yang dilaporkan misalnya,” jelas dia.

Terakhir, Mulyadi berharap, adanya audit kepada soal tax clearance kepada perusahaan yang memasuki pasar modal. Biasanya, kata dia, tax clearance akan menjadi syarat perusahaan-perusahaan yang akan go public atau corporate action.
Menurutnya, audit merupakan momentum di tengah audit dari Morgan Stanley Capital International kepada IHSG Indonesia.

“Terakhir tax clearance perusahaan-perusahaan masuk pasar modal itu.
Biasanya mereka akan go public atau corporate action apapun kan salah satu syaratnya adalah tax clearance.Nah coba secara acak di audit itu, proses tax clearance-nya itu, itu benar-benar prosedural atau tidak,” pungkasnya.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
IDUL FITRI M HEKAL
advertisement
IDUL FITRI AHMAD NAJIB
advertisement
IDUL FITRI SINGGIH
advertisement
IDUL FITRI SOKSI
advertisement
Lainnya
Berita

Dave Laksono Tekankan Peran Digitalisasi dalam Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional

Oleh Sahlan Ake
pada hari Sabtu, 11 Apr 2026
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bekerja sama dengan Komisi I DPR RI menyelenggarakan Webinar Literasi ...
Berita

Mengaku Pegawai KPK, Seorang Wanita Diamankan

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Tim gabungan Subdit Jatanras Polda Metro Jaya bersama penyelidik KPK menangkap seorang perempuan yang diduga melakukan penipuan dengan mengaku sebagai pegawai Komisi ...