Berita
Oleh Bachtiar pada hari Sabtu, 01 Mei 2021 - 23:18:00 WIB
Bagikan Berita ini :

Hafisz: Percuma Buat Permenperin 3/2021, Kalau Data Neraca Gula Tidak Akurat

tscom_news_photo_1619885880.jpg
Achmad Hafisz Thohir Anggota Komisi XI DPR RI (Sumber foto : Istimewa)


JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Anggota DPR RI dari FPAN Achmad Hafisz Thohir menilai, Permenperin 3/2021 Tentang Jaminan Ketersediaan Bahan Baku Gula dalam Rangka Pemenuhan Kebutuhan Gula Nasional akan kontraproduktif.

Pasalnya, kata dia, regulasi dibuat tanpa berpijak pada data yang memadai.

"Tanpa neraca gula percuma buat permenperin segala. Karena data tidak akurat," sindir eks Ketua Komisi VI DPR RI itu kepada wartawan, Sabtu (01/05/2021).

"Yang penting itu buatlah dulu neraca gula. Dari situ pasti akan ketahuan berapa sih sesungguhnya kebutuhan gula tersebut baik untuk industri mamin dan kebutuhan gula biasa," sambungnya.

Selain itu, menurutnya, tanpa neraca gula pasti gula rafinasi akan rembes ke pasar akibatnya petani gula yang rugi.

"Sekali ini biarlah rakyat (petani) yg menang jika ingin rakyat sejahtera. Kalau ingin mewakili kepentingan rakyat maka harus dibuat Neraca Gula Nasional. Sepanjang Neraca Gula Nasional blm di hitung cermat maka import gula masih menyisakan masalah besar bagi petani gula," tandas Anggota Komisi XI DPR RI itu.

Jika belum memahami apa itu definisi unsur-unsur neraca gula, Hafisz pun memberikan penjelasan terkait hal itu

"Pertama, produksi harus mencerminkan kemampuan produksi gula dalam negeri. Kedua, impor merupakan penyeimbang neraca, dimana impor dibedakan atas jenis GKM (Gula Kristal Mentah), GKP (Gula Kristal Putih) dan GKR (Gula Kristal Rafinasi), dan sebaiknya disetarakan dgn GKP. Ketiga, pemakaian untuk industri non pangan dan tingkat kehilangan hasil dimasukkan dalam neraca. Keempat, selama masih ada segmentasi pasar GKP dan GKR, maka stok akhir dan stok awal dibedakan atas GKP dan GKR. Stok harus merupakan suatu instrumen kebijakan untuk menjamin kontinuitas pasokan gula dalam negeri dalam jumlah yang cukup," paparnya.

Ke depan, Hafisz berharap, Neraca Gula Nasional agar mengacu pada satu konsep, sehingga tidak membingungkan.

"Konsep FAO merupakan konsep yang dipakai secara internasional, dan mencakup alur dari produksi sampai dengan ke ketersediaan, dan ini sangat bagus, maka itu sebaiknya neraca gula disusun berdasarkan konsep FAO," jelasnya.

"Semoga petani gula dapat hidup sejahtera sesuai dengan UUD 45 negara lahir untuk memberikn kesejahteraan kepada Rakyatnya. Pemerintah hadir ketika petani butuh perlindungan dari penguasa negeri ini. Salam untuk Indonesia yang lebih baik," pungkasnya.

tag: #pangan  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DD BERBAGI
advertisement
Berita Lainnya
Berita

Kabel Menjuntai Sebabkan Siswi SMA Tewas, Mardani DPR Sebut Utilitas Kota Harus Pastikan Keselamatan Publik

Oleh Sahlan Ake
pada hari Rabu, 24 Jun 2026
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Anggota Komisi II DPR RI, Mardani Ali Sera menyampaikan keprihatinan atas insiden menjuntainya kabel listrik di jalan yang menyebabkan seorang siswi SMA kecelakaan hingga ...
Berita

Legislator: Layanan Kesehatan Jiwa Bagi Korban Penyekapan Perempuan di Bandung Harus Jadi Bagian Proses Pemulihan

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus penyekapan dan penganiayaan sadis terhadap seorang perempuan berinisal YTR ...