Oleh Sahlan Ake pada hari Jumat, 08 Mei 2026 - 08:42:47 WIB
Bagikan Berita ini :

DPR: Kasus Joki UTBK Jadi Alarm Serius Dunia Pendidikan

tscom_news_photo_1778204567.jpg
Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti dapil Surabaya-Sidoarjo menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Polrestabes Surabaya membongkar jaringan joki UTBK yang diduga membantu ratusan peserta masuk perguruan tinggi negeri melalui cara ilegal.

Menurut Reni, pengungkapan kasus tersebut menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan karena praktik kecurangan dalam seleksi masuk PTN ternyata dilakukan secara sistematis dan melibatkan sindikat terorganisasi. Ia pun mendorong aparat kepolisian menindak tegas seluruh pihak yang terlibat tanpa pandang bulu.

“Kami mengapresiasi langkah cepat dan tegas Polrestabes Surabaya. Kasus ini harus diusut sampai tuntas agar kepercayaan publik terhadap sistem seleksi pendidikan tinggi tetap terjaga,” ujar Reni, Jumat (8/5/2026).

Ia juga memberikan dukungan kepada panitia Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) yang dinilai berhasil memperkuat sistem pengawasan selama pelaksanaan UTBK tahun ini. Menurutnya, kemampuan mendeteksi peserta curang menunjukkan adanya peningkatan pengamanan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Penanganan yang terbuka dan tegas seperti ini penting untuk memberikan efek jera. Dunia pendidikan tidak boleh dikotori praktik-praktik yang merusak nilai kejujuran dan meritokrasi,” katanya.

Kasus tersebut terungkap setelah pengawas UTBK di kampus Universitas Negeri Surabaya mencurigai identitas seorang peserta berinisial HR. Foto administrasi peserta disebut memiliki kemiripan dengan data lama, namun menggunakan identitas berbeda.

Dari pengembangan penyelidikan, polisi menemukan dugaan jaringan joki yang telah beroperasi selama bertahun-tahun. Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, menyebut sindikat tersebut memiliki sistem kerja yang rapi dengan pembagian tugas masing-masing pelaku.

“Jaringan ini bekerja secara terstruktur dengan kendali dari koordinator utama,” ujar Luthfie.

Polisi juga mengungkap besarnya uang yang beredar dalam praktik curang tersebut. Untuk meloloskan peserta ke jurusan bergengsi, terutama Fakultas Kedokteran di PTN favorit, tarif jasa joki disebut mencapai Rp 700 juta per orang.

Para pelaku diduga memiliki peran berbeda, mulai dari perekrut peserta, joki ujian, pembuat identitas palsu, hingga pihak yang mengatur proses administrasi. Sejauh ini, 14 tersangka telah diamankan, sementara dua orang yang diduga menjadi aktor utama masih dalam pengejaran aparat kepolisian.

tag: #dpr  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DOMPET DHUAFA KURBAN 2026
advertisement