Berita
Oleh Ahmad Hatim Benarfa pada hari Kamis, 23 Jul 2015 - 15:22:17 WIB
Bagikan Berita ini :

Para Ulama Ini Dorong Semua Pihak Wujudkan Damai di Tolikara

83IMG-20150723-WA0007.jpg
Para Ulama Yang Tergabung Dalam KOMAT (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Menyikapi krisis hubungan antarumat beragama di Tolikara, Papua, para ulama yang tergabung dalam Komite Umat untuk Tolikara (KOMAT) mengadakan konferensi pers yang dilakukan di Restoran Pulau Dua, Kompleks Taman Ria Senayan, Jakarta, pada Kamis (23/7/2015).

Konferensi pers yang dihadiri beberapa tokoh seperti Didin Hafidhuddin, Hidayat Nur Wahid, Bachtiar Nasir, M Syafii Antonio, dan Yusuf Mansur ini mendorong semua pihak untuk mewujudkan kondisi damai dan toleransi di kabupaten Tolikara, pasca insiden pembakaran musholla pada Hari Raya Idul Fitri, Jumat (17/7/2015) lalu.

KOMAT yang berisi para tokoh dan ulama ini utamanya meminta semua ormas dan elemen masyarakat untuk secara bersama-sama menyalurkan bantuannya secara terkordinasi melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Lembaga Amil Zakat (Laznas) yang dikordinasikan oleh Forum Zakat (FOZ), agar pemulihan dan pembangunan perekonomian di Tolikara berjalan dengan efektif.

Para ulama ini juga mendorong pihak keamanan untuk memberikan jaminan keamanan dan ketenangan bagi masyarakat muslim di Tolikara dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari, pasca insiden penyerangan shalat idul fitri. Selain itu, para ulama mendukung langkah umum yang tegas, adil dan transparan terhadap aktor intelektual atau oknum-oknum yang terindikasikan melakukan gerakan radikalisme, separatisme, dan terorisme harus tetap dilakukan untuk mewujudkan keadilan.

Selain itu, menurut Ketua KOMAT Bachtiar Nasir, masalah Tolikara adalah masalah dalam negeri. Sehingga, menurutnya, semua pihak perlu mewaspadai kepentingan asing atau pihak lain yang tidak bertanggung jawab terhadap kedaulatan NKRI.

“TNI dan Polri harus menindak unsur-unsur atau atribut yang mengarah pada keterlibatan pihak asing yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Dalam kesempatan ini, KOMAT juga menyatakan dukungannya kepada Menteri Dalam Negeri (Mendagri) untuk mencabut perda yang telah diakui oleh bupati Tolikara bersifat diskriminatif tentang aturan pembatasan pembangunan rumah ibadah di kabupaten Tolikara.

“Perda ini bertentangan dengan Undang-undang Dasar (UUD) dan tidak kondusif untuk toleransi antar umat beragama, khususnya di Tolikara,” ujar Bachtiar. (mnx)

tag: #pembakaran mushola di papua  #intimidasi mayoritas  #kasus intoleransi di Indonesia  #KOMAT  #FOZ  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DD BERBAGI
advertisement
HUT RI M HAEKAL 2026
advertisement
HUT RI SOKSI 2026
advertisement
HUT RI H. IWAN D ARAS 2026
advertisement
HUT RI BAMBANG PATIJAYA
advertisement
HUT RI A NAJIB 2026
advertisement
Berita Lainnya
Berita

Patrice Sebut Banyak Kader Partai Lain Ingin Gabung Hanura

Oleh Sahlan Ake
pada hari Rabu, 02 Sep 2026
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Ketua Task Force Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Hanura Patrice Rio Capella mengungkapkan, banyak kader partai lain mulai melirik Hanura. Namun, pihaknya belum mau ...
Berita

SEMMI Jakarta Raya Pertanyakan Dasar Putusan Hakim PA Jakpus, Kasus Apa?

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) — Putusan Pengadilan Agama Jakarta Pusat Nomor 85/Pdt.G/2025/PA.JP menjadi perhatian publik, khususnya terkait objek harta yang disebut berstatus Sertifikat Hak Milik ...