Bisnis
Oleh Ferdiansyah pada hari Jumat, 16 Sep 2016 - 10:04:16 WIB
Bagikan Berita ini :

Membangkang, Google Indonesia Ogah Diperiksa Pajak

4google_indonesia.jpg
Ilustrasi (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Perusahaan digital asal AS, Google memberikan respons negatif menolak diperiksa oleh Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen pajak). Upaya tersebut dinilai sebagai upaya untuk menghindari pajak.

Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mengungkapkan, Google menolak diperiksa dengan cara memulangkan surat perintah pemeriksaan dari pemerintah.

Perusahaan itu dianggap mengemplang pajak karena belum menjadi badan usaha tetap (BUT). Dengan kata lain, Google Indonesia belum menjadi wajib pajak.

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Jakarta Khusus Ditjen Pajak Muhammad Hanif menjelaskan, pembicaraan secara intensif dengan Google sebetulnya sudah dilakukan sepanjang tahun ini. Bahkan, perwakilan dari Google di Singapura sempat mendatangi Ditjen Pajak untuk melanjutkan pembahasan soal ini.

Google yang berbasis di AS juga menyatakan minatnya untuk turun langsung merampungkan masalah ini. Hanya saja, kondisinya berbalik ketika satu bulan lalu, Agustus, Google memulangkan surat perintah pemeriksaan dari pemerintah.

Hanif melanjutkan, langkah Google tersebut akan diajukan pemerintah sebagai bukti permulaan atau buper untuk melakukan investigasi lanjutan. Penolakan pemeriksaan menjadi satu indikasi pidana.

"Pasti mutlak indikasi pidana. Namun kita terbentur adanya suasana tax amnesty. Instruksi dari Dirjen Pajak dan tidak melakukan langkah bukti permulaan kecuali hal-hal khusus," ujar Hanif di Kantor Ditjen Pajak, Kamis (15/9/2016).

Hanif menegaskan pemerintah akan terus melanjutkan upaya untuk memajaki Google. Langkah investigasi kepada Google akan dilanjutkan setelah program amnesti pajak berakhir, demi menjaga iklim kondusif bagi wajib pajak yang ingin mengikuti pengampunan pajak. Hingga saat ini, ia mencatat baru Inggris yang berhasil memajaki perusahaan digital seperti Google.

Langkah serupa akan dilakukan juga untuk perusahaan digital lainnya, seperti Twitter, Facebook, dan Youtube.

"Jadi kita akan tunggu akhir September ini. Karena saya mendengar pada akhir September kemungkinan akan dibuka lagi keran untuk peningkatan law enforcement. Karena kita akan lihat hasil dari amnesti pajak ini tapi langkah ini kita akan diskusikan dengan Pak Dirjen khsususnya. Apakah Kita bisa ambil langkah yang lebih keras terhadap Google ini. Dalam suasana seperti ini. Ini akan kita pergunakan. Facebook kita jalan terus,"

Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat, potensi perikanan digital di Indonesia menyentuh USD 850 juta pada 2015 lalu. Dari angka tersebut, 70 persen di antaranya didominasi oleh perusahaan digital global termasuk Google, Facebook, dan Twitter.(yn)

tag: #google  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DOMPET DHUAFA KURBAN 2026
advertisement
Bisnis Lainnya
Bisnis

Hari Buruh dan Ujian Kepemimpinan Nasional: Saatnya Akselerasi Reformasi Ketenagakerjaan

Oleh Sahlan Ake
pada hari Jumat, 01 Mei 2026
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Momentum peringatan Hari Buruh Internasional pada hari ini 1 Mei 2026 mesti dimaknai lebih dari sekadar seremoni tahunan atau ruang artikulasi tuntutan rutin pekerja. ...
Bisnis

Bamsoet : Pelatihan Berkualitas Kunci Daya Saing Pekerja Migran Indonesia

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)— Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Lembaga Pelatihan Bahasa Jepang Indonesia (PELBAJINDO), Bambang Soesatyo, menuturkan ...