Berita
Oleh Mandra Pradipta pada hari Selasa, 26 Feb 2019 - 09:54:36 WIB
Bagikan Berita ini :

Daniel Johan: Hoax Pengaruhi Partisipasi Politik Masyarakat

tscom_news_photo_1551149676.jpg
Daniel Johan (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) -- Anggota MPR dari Fraksi PKB, Daniel Johan menyebutkan maraknya hoax bisa mempengaruhi psikologi masyarakat pemilih.

Akibat hoax, masyarakat pemilih menjadi khawatir dan apatis. Ini bisa menurunkan partisipasi politik dalam Pemilu serentak 2019.

"Hoax yang mempertentangkan dan memecah-belah masyarakat membuat pemiilh apatis terhadap politik," kata Daniel Johan di Jakarta, Selasa (26/2/2019).

Daniel menyatakan, Pemilu adalah pesta demokrasi yang biasa dan rutin. Seharusnya pesta demokrasi ini disambut dengan riang.

"Pileg dan Pilpres merupakan momentum bagi rakyat untuk memilih pemimpin terbaik yang bisa membawa perubahan Indonesia menjadi lebih baik dan sejahtera," ujarnya.

Namun, pesta demokrasi itu membutuhkan partisipasi politik masyarakat. Dalam konteks Pemilu 2019 ini, Daniel melihat ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, maraknya hoax di masyarakat khususnya melalui media sosial.

"Kita khawatir dengan hoax yang menimbulkan pertentangan dan memecah belah masyarakat. Hoax ini akan mempengaruhi psikologis masyarakat. Akhirnya masyarakat menjadi khawatir dan apatis," jelasnya.

Karena itu, Daniel meminta semua pihak untuk mengantisipasi maraknya hoax ini. "Saya rasa peran media menjadi sangat penting untuk mengklarifikasi setiap hoax. Hoax yang membenturkan dan memecah belah masyarakat membuat orang menjadi apatis terhadap politik. Ini akan merugikan kandidat calon presiden yang berkompetisi," tuturnya.

Kedua, hari pencoblosan yang ditetapkan sebagai hari libur. Menurut Daniel, dengan ditetapkannya hari pencoblosan menjadi hari libur, masyarakat melihat ada libur panjang.

"Ini menjadi tantangan tersendiri. Jangan sampai masyarakat justru mengambil libur panjang daripada berpartisipasi ke TPS," katanya.

Daniel juga mengkhawatirkan kalangan pemilih pemula yang lebih memilih berlibur dibanding pergi ke TPS.

"Pemilih milenial adalah pemilih terbesar dalam pemilu ini. Mereka biasanya tidak terlalu tertarik dengan dunia politik. Mungkin mereka sudah mengagendakan mengisi libur panjang itu. Ini menjadi persoalan tersendiri yang harus dijawab KPU sebagai penyelenggara pemilu dan pemerintah," paparnya.

Partai politik, lanjut Daniel, harus mendorong para caleg turun langsung ke masyarakat. Dengan menyapa langsung masyarakat, diharapkan bisa mendorong partisipasi politik masyarakat.

"Masyarakat harus menyadari bahwa Pileg dan Pilpres sangat penting. Pileg sangat penting karena menentukan peran partai politik di parlemen dalam ikut menentukan arah pembangunan," tuturnya. (ahm)

tag: #mpr  #hoax  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
IDUL FITRI 2025 AHMAD NAJIB Q
advertisement
DOMPET DHUAFA RAMADHAN PALESTIN
advertisement
IDUL FITRI 2025 WACHID
advertisement
IDUL FITRI 2025 HEKAL
advertisement
IDUL FITRI 2025 HERMAN KHAERON
advertisement
Berita Lainnya
Berita

Sikap DPR soal Penghapusan SKCK Berarti Buat Rakyat

Oleh Sahlan Ake
pada hari Kamis, 03 Apr 2025
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Usulan penghapusan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang diusulkan oleh Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) mendapatkan respon positif dari DPR. Sikap yang ...
Berita

5 Tahun Tidak Bisa Pulang, Bu Atun Bersyukur Ada Program Mudik Gratis dari BUMN

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Setelah lima tahun menahan rindu untuk pulang ke kampung halaman keluarga di Tegal, Ibu Uswatun Hasanah, atau yang akrab disapa Ibu Atun, akhirnya bisa mewujudkan ...