Bisnis
Oleh Rihad pada hari Kamis, 03 Sep 2020 - 20:25:50 WIB
Bagikan Berita ini :

Kemenhub Tetap Pakai Rapid Test Meski Tidak Direkomendasikan WHO

tscom_news_photo_1599139534.jpg
ilustrasi rapid test (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menanggapi pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait tes cepat atau “rapid test” COVID-19 yang tidak direkomendasikan sebagai syarat bertransportasi dengan angkutan massal. “Kami merujuk pada satu lembaga atau kementerian yang lebih punya wewenang, di situ ada Satgas, dalam Satgas ini ada unsur Kementerian Kesehatan,” kata Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati dalam diskusi daring yang bertajuk “Panduan Protokol untuk Operasi Bisnis Berkelanjutan: Industri Transportasi Publik” di Jakarta, Kamis (3/9).

Untuk itu, lanjut dia, hingga saat ini Kemenhub masih merujuk pada Surat Edaran Gugus Tugas Nomor 9 yang mana masih mewajibkan tes cepat dan tes swab/PCR. Adita menambahkan pihaknya juga telah mengadakan kajian melalui kerja sama dengan Universitas Indonesia untuk mengevaluasi apakah syarat atau protokol kesehatan dalam bertransportasi sudah efektif. “Ada beberapa rekomendasi yang kami sampaikan ke Satgas,” katanya.

Saat ini, lanjut dia, pihaknya masih menggunakan tes cepat hasil non reaktif sebagai syarat sah seseorang bisa menggunakan moda transportasi umum. “Kami masih menunggu apa yang nantinya jadi keputusan. Sampai adanya ketentuan baru, kami masih merujuk ketentuan yang ada sekarang,” katanya.

Namun, dia menegaskan kepada operator melakukan pengawasan serta pihaknya berfokus ke penegakan hukum apabila ada oknum-oknum yang melanggar. “Kami masih akan menerapkan itu di semua moda transportasi, yang terpenting bagaimana ‘monitoring’ dan ‘law enforcement’-nya. Otoritas bandara, operator bandara dan kereta api juga memastikan semua penumpang memenuhi syarat itu agar tidak ada penularan di transportasi umum,” ujarnya.

WHO tidak merekomendasikan tes cepat atau “rapid test” untuk mengetahui seseorang terinfeksi COVID-19 atau tidak sebagai syarat bepergian dengan moda transportasi umum.

Lebih lanjut, WHO tidak pernah merekomendasikan tes cepat berbasis antibodi untuk kepentingan apapun selain penyelidikan epidemiologis.

Menurut, National Professional Officer WHO Indonesia Dina Kania hasil tes cepat yang diadakan di sejumlah simpul transportasi, seperti bandara dan stasiun dinilai tidak valid.

Dalam pernyataan resminya, WHO tidak merekomendasikan penggunaan tes diagnostik cepat berbasis deteksi antibodi untuk perawatan pasien, tetapi mendukung dilanjutkannya upaya menetapkan kegunaannya dalam pengawasan penyakit dan penelitian epidemiologis.

Dengan keterbatasan data yang tersedia sampai saat ini, WHO saat ini tidak merekomendasikan penggunaan tes diagnostik cepat berbasis deteksi antigen untuk perawatan pasien, tetapi sangat mendukung dilakukannya penelitian lanjutan untuk mengetahui kinerja dan potensi kegunaan diagnostiknya.

tag: #covid-19  #rapid-test  #kemenhub  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
PRAY SUMATRA
advertisement
We Stand For Palestinian
advertisement
DD MEMULIAKAN ANAK YATIM
advertisement
Bisnis Lainnya
Bisnis

Bamsoet : Pelatihan Berkualitas Kunci Daya Saing Pekerja Migran Indonesia

Oleh Aris Eko
pada hari Selasa, 06 Jan 2026
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)— Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Lembaga Pelatihan Bahasa Jepang Indonesia (PELBAJINDO), Bambang Soesatyo, menuturkan ...
Bisnis

Beli Gabah Petani Non Tunai, Bulog Targetkan Data Serapan Nasional Secara Langsung 2026

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)—Mulai 2026, Bulog menerapkan pembelian gabah petani secara digital atau non tunai. Selain untuk keamanan transaksi bagi para petani, pola ini ditargetkan bisa merekam ...