Berita
Oleh Bachtiar pada hari Sabtu, 27 Mar 2021 - 13:05:03 WIB
Bagikan Berita ini :

Soal Kinerja Bulog, Lagi-lagi FGerindra dan FGolkar Beda Pandangan, Kenapa?

tscom_news_photo_1616825103.jpg
Bendera lambang partai Golkar dan Gerindra (ilustrasi) (Sumber foto : Istimewa)


JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Kinerja Badan Urusan Logistik (Bulog) dibawah kepemimpinan Budi Waseso banyak dipertanyakan sejumlah pihak. Utamanya terkait serapan gabah hasil panen para petani.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi IV DPR RI fraksi Partai Gerindra Endang S. Thohari mengaku wajar dengan kinerja Bulog tersebut. Pasalnya, kata dia, Bulog selama ini memang terkendala biaya operasional.

"Biaya operasional Bulog pinjam dari bank, dengan suku bunga komersial," tegas Politikus Gerindra itu, Jumat (26/3/2021).

Endang memandang, kinerja Bulog akan semakin bagus jika memang didukung dengan dana operasional yang memadai.

"Bagus" bila didukung dengan dana operasional yang memadai," tegas Endang.

Endang menekankan, negara harus mampu menjamin ketersedian dan kecukupan pangan. Negara juga harus menciptakan keterjangkauan harga dan pemenuhan konsumsi serta keamanan mutu dan gizi pangan.

Hal ini seusai dengan amanat pasal 33 ayat Undang-Undang Dasar 1945 bahwa Bumi air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya harus dipergunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

"Peran Bulog seharusnya jadi Badan Penyangga dan Pengelola Pangan di bawah Presiden langsung dan berperan sebagai BUMN yang melindungi petani kita," tandas Endang.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi IV Dedi Mulyadi kembali menyoroti masalah kinerja perusahaan BUMN Bulog. Dia menilai Bulog gagal dalam melakukan tiga hal.

Pertama, kata Dedi, Bulog tak memiliki kemampuan menyerap gabah petani, sehingga para petani menjual hasil padinya ke tengkulak. Namun, seringkali tengkulak tidak semuanya memiliki modal yang cukup.

Kedua, yang gagal dilakukan Bulog adalah tidak maksimalnya menyerap gabah petani. Menurut Dedi, daya serap Bulog itu rendah, karena seirng kali membeli beras di bawah tengkulak.

Misalnya, tengkulak membeli gabah dari petani Rp 4.200 per kilogram, sedangkan Bulog hanya Rp 3.800 per kilogram. Hal itu karena memang Bulog memiliki kehati-hatian dalam membeli gabah.

Ketiga, Bulog tak memiliki gudang dengan teknologi memadai dalam penyimpanan beras. Akibatnya, beras yang disimpan di gudang tidak bisa bertahan lama sehingga mudah busuk.

tag: #bulog  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
PRAY SUMATRA
advertisement
We Stand For Palestinian
advertisement
DD MEMULIAKAN ANAK YATIM
advertisement
Berita Lainnya
Berita

Menjaga Fondasi Kepercayaan: Menghindari Skenario Ekstrem “70% PDB Keluar dari Pasar”

Oleh Chairul Munawar Tanjung
pada hari Jumat, 16 Jan 2026
Sebagai pelaku usaha yang telah melalui beberapa siklus ekonomi di Indonesia, saya merasa perlu menyampaikan keprihatinan dan sekaligus harapan mengenai kondisi ekonomi kita belakangan ini. Dalam ...
Berita
Sebut Situasi Seperti 1998

Hariman Siregar : Demokrasi Dikendalikan Elit Politik dan Oligarki

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)—Tokoh peristiwa Malari dokter Hariman Siregar menilai situasi sosial politik nasional saat ini seperti tahun 1998. Dia menyebut persamaan itu antara lain ditandai oleh ...