
“Kalau merampas kemerdekaan pribadi, jadi berhala. Semua yang merampas kebebasan pribadi itu adalah berhala. Berhala adalah segala sesuatu yang kita ciptakan, yang setelah jadi tidak bisa lagi kita kuasai, bahkan berbalik menguasai kita. Perampasan ke merdekaan pribadi, memang hilir-mudik di depan kita, bahkan seolaholah, menjadi satu agenda kehidupan yang kita jalani bersama, yang menjurus pada pemakluman akan perampasan kemerdekaan pribadi tersebut.”
Nurcholish Madjid
“Mari kita baca beban sejarah yang ada di depan kita. Beban kita adalah membebaskan rakyat dari penderitaan sehari-hari. Beban kita adalah membuat rakyat yang menganggur mempersoalkan kesempatan kerja dan pembangunan ekonomi yang tidak menguntungkan rakyat. Beban kita adalah mengetatkan gandengan dengan sesama generasi muda memikirkan masa kini dan masa depan. Ringkasnya, beban sejarah kita adalah menggalakkan keberanian rakyat untuk menyuarakan diri. Semua ini adalah beban yang tidak ringan–untuk tidak mengatakan berat sekali. Namun, pada akhirnya, berat atau ringan itu tetap merupakan beban kita. Sekali kita mengelak, untuk selamanya kita akan menjadi warga negara yang dikutuk sejarah”
Hariman Siregar
Sejarah sering terasa jauh bagi generasi yang lahir setelahnya. Kadang pula tidak selalu hadir sebagai pelajaran yang terang. Kerapkali datang sebagai pertanyaan yang terlambat dijawab, atau sebagai ingatan yang diperingati tanpa sungguh dipahami. Di titik inilah kita menemukan jalinan kesadaran di antara Paramadina dan Malari, dua simpul sejarah yang menyimpan memoar kegelisahan, sekaligus keberanian berpikir, bertindak, dan berpihak.
Di antara cita-cita moral dan realitas negara yang kian abnormal. Paramadina berawal dari sebuah kegelisahan intelektual mendalam oleh Nurcholish Madjid, yang menyikapi fenomena kebekuan agama, limitasi nalar, serta kerapuhan demokrasi dalam menghadapi distorsi etika. Sejalan dengan itu, Paramadina yang sering dijuluki sebagai “Kampus Peradaban” didirikan atas prinsip etika-religius yang bersumber dari dua ayat Al-Qur’an (Q.S An-Nisa [4]: 113 & Q.S Al-Baqarah [2]: 269) dan hadis Nabi Muhammad SAW “Hikmah ialah kebenaran di luar kenabian “(H.R Bukhari).
Tujuan pendiriannya jelas, melahirkan “manusia-manusia baru” yang memiliki kedalaman iman, kemandirian jiwa, ketajaman nalar, kepekaan nurani, kecakapan berkarya,dan keluasan wawasan.4 Maka tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Paramadina bukan sekadar institusi pendidikan semata, melainkan sebuah manifestasi dari sebuah proyek kultural—etos dedikasi untuk melestarikan daya nalar kritis, pluralisme, dan akuntabilitas moral dalam diskursus publik.
Sementara Peristiwa Malari 1974 lahir dari kegelisahan yang berbeda, namun tidak kalah mendesak. Sebab negara sudah terlalu mesra dengan modal, pembangunan melaju tanpa keadilan, dan kritik dianggap ancaman. Meminjam istilah Max Lane, Malari merupakan “embrio-embrio” alternarif perlawanan sosial terhadap kekuasaan (pahlawan) Soeharto dan rezim Orde Barunya yang didukung militer fasis, birokrasi korup, konglomerat hitam (oligarki) dan politikus busuk yang anti-rakyat.5 Embrio-embrio ini pada akhirnya terus tumbuh dalam kesejarahan yang menolak berdamai dengan ketidakadilan.
Pada usia 28 tahun, Paramadina hidup di era yang sangat berbeda. Demokrasi ada, tetapi seringkali kehilangan semangatnya. Agama muncul di ruang publik, tetapi seringkali menjadi alat pembenaran. Pengetahuan melimpah, tetapi keberanian intelektual semakin memudar. Tantangan hari ini bukan lagi penindasan yang terang-terangan, tetapi kooptasi yang halus—ketika akal sehat dikondisikan untuk menjadi patuh, ketika kritik diajak untuk berkompromi, ketika kebebasan dijinakkan oleh kenyamanan.
Sementara, pada usia 51 tahun Malari, memoar itu senantiasa membayangi dinamika gerakan sosial, kemudian mewujud sebagai kegelisahan baru dengan berbagai skema perlawanan terhadap sistem hantu-hantu lama dengan logika yang sama, walau kadung terkuras oleh algoritma, diskursus wacana, dan fragmentasi massa. Meski begitu, “embrio-embrio alternatif” dari Malari terus menemukan bentuk dan karakteristiknya sendiri.
Nurcholish Madjid dan Hariman Siregar merupakan produk krisis sejarah bangsa, keduanya memihak dan menggagas pembaruan atas negara yang telah menjauh dari rakyat dan cita-cita mulia. Meski berbeda spektrum argumen kritiknya, gagasan keduanya dapat memiliki kesamaan dalam menolak dogmatisme baik dalam ideologi keagamaan maupun kekuasaan.
Di antara Paramadina dan Malari, sejarah sesungguhnya sedang mengingatkan kita bahwa kebebasan tidak pernah datang sebagai hadiah. Melainkan lahir dari kegelisahan, dipelihara oleh keberanian, dan bertahan karena kesediaan warga untuk terus bersuara. Tanpa itu semua, demokrasi hanya akan menjadi prosedur, dan keadilan tinggal slogan. Meski hari ini kita hidup di zaman yang riuh, segalanya bergerak cepat, kecuali keadilan, segalanya tampak terang, kecuali arah. Di tengah hiruk-pikuk itu, berpikir jernih dan berani menyangsikan kegelisahan adalah kerja-kerja perawatan kesejarahan peradaban .
Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.
tag: #