Oleh Ariady Achmad pada hari Senin, 09 Feb 2026 - 19:13:58 WIB
Bagikan Berita ini :

Jika Revolusi Tak Pernah Datang: Strategi Menyelamatkan Republik dari Dalam

tscom_news_photo_1770639238.jpg
(Sumber foto : )

Indonesia hari ini berada dalam sebuah paradoks kebangsaan. Di satu sisi, korupsi merajalela, hukum terasa tumpul ke atas dan tajam ke bawah, kesenjangan sosial semakin melebar, sementara oligarki kian menguat di pusat-pusat kekuasaan. Namun di sisi lain, tidak ada letupan revolusi rakyat sebagaimana terjadi di Nepal, Sri Lanka, atau Bangladesh. Jalanan relatif tenang, negara tampak stabil, dan roda pemerintahan terus berputar.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi semata mengapa revolusi tidak terjadi, melainkan pertanyaan yang jauh lebih relevan bagi masa depan republik:

> Jika revolusi tidak datang, apa yang masih bisa dilakukan untuk menyelamatkan Indonesia dari pembusukan sistemik?

Pertanyaan ini menuntut kejernihan berpikir. Sebab kemarahan tanpa arah hanya akan berakhir sebagai keluhan viral—ramai sesaat, lalu lenyap ditelan algoritma dan rutinitas hidup.


---

Revolusi Bukan Keniscayaan Sejarah

Sejarah dunia menunjukkan bahwa revolusi bukanlah hukum alam. Banyak bangsa berubah bukan melalui ledakan sosial, tetapi melalui proses panjang delegitimasi kekuasaan, reformasi institusional, dan pergeseran kesadaran publik.

Revolusi jalanan selalu membawa biaya besar: korban jiwa, kehancuran ekonomi, instabilitas politik, bahkan perang saudara. Tidak sedikit revolusi justru melahirkan elite baru yang mengulangi pola lama dengan wajah berbeda.

Dalam konteks Indonesia—negara besar, majemuk, dan terintegrasi kuat dengan sistem ekonomi global—revolusi frontal bukan hanya berisiko, tetapi berpotensi menghancurkan fondasi kebangsaan itu sendiri. Karena itu, ketiadaan revolusi tidak otomatis berarti bangsa ini mati. Bisa jadi Indonesia sedang berada pada fase sejarah yang menuntut strategi perubahan yang lebih canggih, lebih sabar, dan lebih konstitusional.


---

Dari Ledakan Massa ke Perang Posisi

Pemikir Italia Antonio Gramsci membedakan dua bentuk perjuangan: war of movement (serangan langsung) dan war of position (perebutan posisi strategis). Indonesia hari ini jelas tidak berada pada fase war of movement. Negara memiliki perangkat hukum, teknologi, ekonomi, dan sosial yang cukup kuat untuk meredam ledakan frontal.

Namun justru di situlah war of position menjadi relevan. Perang posisi bukan tentang menggulingkan negara, melainkan merebut kembali makna dan fungsi negara. Bukan membakar institusi, tetapi mengoreksi arah dan moralitasnya. Bukan menghancurkan sistem, tetapi melemahkan penyimpangan yang menggerogotinya dari dalam.


---

Delegitimasi Moral sebagai Titik Awal

Kekuasaan modern tidak runtuh terutama karena demonstrasi, melainkan karena kehilangan legitimasi moral. Negara paling rapuh bukan yang paling sering didemo, tetapi yang tak lagi dipercaya oleh rakyatnya sendiri.

Delegitimasi moral dibangun melalui pembongkaran kontradiksi antara pidato dan kebijakan, penyingkapan ketimpangan penegakan hukum, serta kritik konsisten terhadap keberpihakan negara pada segelintir elite. Tujuannya bukan menciptakan kekacauan, melainkan memaksa kekuasaan berhadapan dengan nilai-nilai yang diklaimnya sendiri: keadilan, konstitusi, dan kepentingan nasional.


---

Membangun Narasi Kebangsaan, Bukan Sekadar Viral

Salah satu kelemahan gerakan kritis hari ini adalah ketergantungan pada viralitas. Media sosial kerap menjadi katup pelepas emosi, bukan alat perubahan jangka panjang. Padahal yang dibutuhkan adalah narasi kebangsaan yang konsisten, berbasis data, dan berjangka panjang.

Narasi tentang kedaulatan ekonomi, keadilan sosial, Pasal 33 UUD 1945, dan negara sebagai pengurus kepentingan rakyat—bukan makelar kepentingan oligarki. Narasi semacam ini harus ditulis, diarsipkan, diajarkan, dan diwariskan, bukan sekadar diposting lalu dilupakan.


---

Dari Massa Marah ke Kelas Sadar

Perubahan sejarah jarang digerakkan oleh massa yang marah sesaat. Ia digerakkan oleh minoritas sadar yang konsisten dan tahan tekanan. Yang perlu diperkuat adalah lapisan masyarakat yang memiliki kapasitas berpikir dan daya tahan moral: intelektual, akademisi, jurnalis independen, profesional, birokrat berintegritas, serta aktivis yang tidak mudah dikooptasi.

Jumlah mereka mungkin tidak besar, tetapi pengaruhnya signifikan. Dari kelompok inilah kritik rasional terhadap negara bisa dijaga agar tidak tenggelam oleh propaganda, polarisasi, dan kebisingan politik jangka pendek.


---

Mengoreksi dari Dalam Institusi

Menyerahkan seluruh institusi negara kepada oligarki adalah bentuk kekalahan dini. Jalan yang lebih rasional justru adalah hadir dan mengoreksi dari dalam. Kehadiran warga sadar di birokrasi, parlemen, lembaga hukum, dan organisasi profesi bukan untuk menang cepat, melainkan untuk menjaga prosedur, membuka data, memperlambat kebijakan menyimpang, serta menciptakan friksi terhadap praktik koruptif.

Sedikit gangguan di banyak titik sering kali lebih efektif daripada satu ledakan besar yang mudah dipadamkan.


---

Menyatukan Isu Material Rakyat

Politik identitas adalah jebakan klasik yang memecah belah rakyat. Isu material justru menyatukan. Harga pangan, biaya pendidikan, layanan kesehatan, lapangan kerja, dan kepastian hukum adalah bahasa universal rakyat Indonesia. Di sinilah energi kebangsaan bisa dipersatukan kembali, melampaui sekat agama, suku, dan afiliasi politik.

Ketika rakyat menyadari bahwa masalah hidup mereka bersumber dari ketidakadilan struktural yang sama, polarisasi akan kehilangan daya rusaknya.


---

Jangan Menunggu Mesias Politik

Kesalahan klasik gerakan perubahan adalah menunggu satu tokoh penyelamat. Padahal sejarah Indonesia menunjukkan bahwa figur tunggal mudah dijatuhkan, dikriminalisasi, atau dikooptasi. Era ini menuntut kepemimpinan kolektif, jaringan nilai, kesepahaman arah, dan keberanian moral bersama.

Negara tidak diselamatkan oleh satu orang, melainkan oleh kesadaran kolektif yang terorganisasi dan berkelanjutan.


---

Melawan dengan Kepala Dingin

Jika revolusi tidak datang, itu bukan berarti republik telah tamat. Bisa jadi justru karena sistem kekuasaan hari ini terlalu canggih untuk dilawan dengan cara-cara lama. Maka perlawanan pun harus naik kelas: tidak emosional, tidak reaktif, tidak mudah diprovokasi, tetapi konsisten, rasional, dan berakar pada konstitusi.

Perubahan sejati sering terjadi bukan saat jalanan terbakar, melainkan ketika fondasi legitimasi kekuasaan runtuh perlahan dari dalam. Dan di situlah, bangsa yang sabar namun sadar akan menemukan jalannya sendiri.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
PRAY SUMATRA
advertisement
We Stand For Palestinian
advertisement
DD MEMULIAKAN ANAK YATIM
advertisement
Lainnya
Opini

Double Downgrade Moody’s dan MSCI Picu Risiko Krisis Likuiditas dan Moneter

Oleh Anthony Budiawan - Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies)
pada hari Sabtu, 07 Feb 2026
Kamis, 5/2/26.  Moody’s menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Hal ini membuat indeks saham (IHSG) turun 2,83 persen pada penutupan perdagangan sesi ...
Opini

OTT Hakim PN Depok: Alarm Nasional Korupsi Yudisial Peradilan

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --OTT KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) terhadap hakim Pengadilan Negeri Depok kembali membuka luka lama dalam sistem peradilan Indonesia. Peristiwa ini menjadi cermin ...