Opini
Oleh Iswandi Syahputra (Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga) pada hari Rabu, 27 Mar 2019 - 16:59:18 WIB
Bagikan Berita ini :

Hoaks Alan Sokal

tscom_news_photo_1553680758.jpg
Dr. Iswandi Syahputra (Sumber foto : Ist)

Tadi malam bertahan tidak tidur hingga jam 02.30 menonton ILC yang membahas soal HOAX hanya gara-gara menunggu buku HOAXES karya Curtis D. Macdougall ini disebut sebagai rujukan. Saat diskusi soal hoax tadi malam di ILC saya memang berharap buku ini dirujuk sebagai salah satu sumber awal tentang hoax. Sebab, sependek pengetahuan saya ini karya ilmiah pertama yang membahas hoaks. Ditulis tahun 1941 oleh seorang wartawan Amerika. Karena itu saya rujuk dalam beberapa artikel saya yang membahas hoak.

Tapi malah Prof. Rhenald Kasali yang tampil ganda sebagai narasumber sekaligus bintang iklan jamu pada acara ILC tersebut justru membawa saya jauh ke belakang, ke kisah Nabi Adam bahkan saat masih berada di surga. Padahal saat ini kita hidup di era Adam Smith. Sangat kering, tidak seencer pemikirannya yang saya kagumi melalui karya tulisnya.

Bung Rocky Gerung agak lumayan mencerahkan karena mengenalkan saya pada hoax ala Alan Sokal. Saya justru berterima kasih pada Roger hingga langsung mensearching artikel Alan Sokal itu hingga menjelang Subuh.

Sampailah saya pada artikel karya Sokal berjudul "Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity"yang dimuat di Jurnal Social Text pada edisi 46/47 Spring-Summer tahun1996.

Terus terang, sebagai penikmat Kajian Budaya dan Media, baca judulnya saja sudah cukup bikin saya merinding. Judul ini seperti dilema tubuh lelaki yang terperangkap dalam jiwa perempuan.

Tapi kemudian artikel ciamiknya itu justru disangkal sendiri oleh Sokal melalui artikelnya yangberjudulPhysicist Experiments with CulturalStudies.Melalui artikel ini Sokal hanya ingin mengatakan artikelnya yang pertama adalah HOAX. Dia tulis dan kirim ke jurnal Social Text hanya untuk menguji standard akademik dan intelektual ilmu sosial dan humaniora. Tesisnya sederhana:

Apakah jurnal ternama (sekarang mungkin terindeks SCOPUS atau.THOMSON) akan menerima dan mempublikasi artikel terlihat menarik dan bagus atau isi artikel sejalan dengan ideologi editor jurnal?

Setelah artikelnya dimuat di jurnal Social Text tersebut, Sokal membuktikan tesis yang diajukannya benar. Ini mencengangkan karena Sokal mampu memberi kritik pada dunia akademik dan elite intelektual terutama rezim pengelola jurnal dengan suatu tipuan satir.

Dalam perspektif ini, HOAX adalah daya atau energi imtelektual bagi kontrol terhadap penyelenggaraan suatu praktik kekuasaan (dalam kasus Sokal, kekuasaan ilmu pengetahuan yang dipraktikkan melalui rezim jurnal). Saya menduga-duga, argumen ini yang hendak digunakan Bung Rocky untuk membuka ruang diskursif agar HOAX tidak dianggap tindakan subversif apalagi terorisme.

Karena itu, sebagai orang yang lagi bergelut dengan artikel dan jurnal internasional bereputasi, saya berterima kasih pada Alan Sokal. Dia adalah seorang Profesor fisika diNew York Universitydan Profesor matematika di University College London.(*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #hoax  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
IDUL FITRI 2025 AHMAD NAJIB Q
advertisement
DOMPET DHUAFA RAMADHAN PALESTIN
advertisement
IDUL FITRI 2025 WACHID
advertisement
IDUL FITRI 2025 HEKAL
advertisement
IDUL FITRI 2025 HERMAN KHAERON
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Peran Intelijen Di Negeri Sendiri Sebagai Problem Solving Bukan Problem Taking

Oleh Sri Radjasa
pada hari Rabu, 02 Apr 2025
Era orde baru meninggalkan legacy intelijen, dengan stigma sebagai alat represif penguasa terhadap kelompok oposisi dan menyebar teror untuk menciptakan rasa takut publik. Kekuasaan orde baru, telah ...
Opini

Disabilitas Menteri atau Menteri Disabilitas

Indonesia masih sering memandang curriculum vitae sebagai simbol status sosial, bukan sebagai rekam jejak kompetensi. Banyak pejabat yang ingin menjabat kembali demi membangun citra sebagai tokoh ...