Bisnis
Oleh Rihad pada hari Tuesday, 02 Jun 2020 - 23:30:00 WIB
Bagikan Berita ini :

Jumlah Penumpang Turun, Garuda Keluhkan Mahalnya Biaya Tes PCR

tscom_news_photo_1591114646.jpg
Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra. (Sumber foto : ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Surat keterangan bebas COVID-19 yang dibuktikan tes PCR kini merupakan syarat wajib bagi calon penumpang untuk bisa melakukan penerbangan. Masalah buat penumpang adalah biaya tes sangat mahal. Hal ini menjadi keluhan Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra karena tes Polymerase chain reaction (PCR) lebih mahal ketimbang tiket pesawat.

Irfan mengatakan pihaknya harus mengkaji kembali harga tiket pesawat agar masyarakat masih mau membeli dan tidak terbebani dengan mahalnya biaya tes PCR.

PCR test biayanya Rp 2,5 juta. Itu lebih mahal daripada biaya bepergian khususnya lokasi yang berdekatan, seperti Jakarta-Surabaya. "Jadi, apalagi kalau bepergian tujuh hari yang berarti harus PCR dua kali dan biaya harus Rp5 juta sementara perjalanan bolak balik hanya Rp1,5 juta,” kata Irfan dalam webinar di Jakarta, Selasa (2/6/2020).

Selain itu, pihaknya juga wajib menerapkan protokol kesehatan dengan menjaga jarak antara penumpang dalam susunan tempat duduk di pesawat di mana mengurangi tingkat keterisian yang otomatis menurunkan pendapatan.

“Kalau ‘physical distancing’ ini dipastikan dilakukan tentu kita harus ‘review’ harga dari penerbangan tersebut,” katanya.

Irfan menambahkan di luar itu, proses pra-penerbangan juga semakin rumit dengan adanya pemeriksaan dokumen dan kesehatan.

“Artinya, ke depan industri ini akan menghadapi penurunan drastis penumpang. Adalah kepentingan bersama, bersama regulator untuk memastikan ini butuh waktu. Kami mendapatkan konsensus, industri ini bisa recovery sebelum COVID-19 dalam masa dua sampai tiga tahun,” katanya.

Ia mengatakan masyarakat yang kerap kali sering melakukan penerbangan pun masih menunggu keadaan untuk kembali pulih.

“Situasi COVID ini juga membuka kita melihat peluang dengan memahami perilaku costumer. Kami lakukan riset kecil-kecilan terhadap kita punya GA Miles dan dari riset ini berkeinginan tetap pergi. Tapi yang mengagetkan 65 persen dari responden menyatakan posisinya ‘wait and see’,” katanya.

tag: #garuda-indonesia  #psbb  #rapid-test  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
PRAY SUMATRA
advertisement
We Stand For Palestinian
advertisement
DD MEMULIAKAN ANAK YATIM
advertisement
Bisnis Lainnya
Bisnis

Bamsoet : Pelatihan Berkualitas Kunci Daya Saing Pekerja Migran Indonesia

Oleh Aris Eko
pada hari Selasa, 06 Jan 2026
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)— Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Lembaga Pelatihan Bahasa Jepang Indonesia (PELBAJINDO), Bambang Soesatyo, menuturkan ...
Bisnis

Beli Gabah Petani Non Tunai, Bulog Targetkan Data Serapan Nasional Secara Langsung 2026

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)—Mulai 2026, Bulog menerapkan pembelian gabah petani secara digital atau non tunai. Selain untuk keamanan transaksi bagi para petani, pola ini ditargetkan bisa merekam ...