
*JAKARTA (TeropongSenayan)* – Langkah Presiden Prabowo Subianto menemui Presiden Vladimir Putin di Moskow baru-baru ini bukan sekadar kunjungan diplomatik biasa. Di tengah bara api konflik Timur Tengah antara Iran versus Amerika Serikat-Israel yang mengancam stabilitas pasokan energi dunia, langkah Prabowo ini dibaca sebagai upaya konkret mengamankan isi perut nasional: *Bahan Bakar Minyak (BBM)*.
### Diplomasi Energi di Tengah Gejolak
Dalam pertemuan tersebut, kerja sama sektor minyak dan gas menjadi menu utama. Indonesia, yang kini dihantui gangguan pasokan dari Timur Tengah, melirik Rusia sebagai alternatif penyelamat. Namun, manuver ini tidak berdiri sendiri. Di hari yang sama, Indonesia juga mempererat kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat.
Fenomena ini mengingatkan kita pada metafora klasik politik luar negeri Indonesia: *"Mendayung di antara dua karang."* Prabowo seolah sedang menari di atas tali tipis, menyeimbangkan kepentingan keamanan dengan Barat dan kebutuhan perut (energi) dengan Blok Timur.
### Kembali ke Marwah Dasa Sila Bandung
Secara logis, jika Indonesia ingin benar-benar selamat dari dampak krisis energi, ketergantungan pada satu jalur adalah bunuh diri diplomatik. Di sinilah relevansi *Dasa Sila Bandung 1955* kembali diuji. Semangat Konferensi Asia-Afrika menekankan pada penghormatan kedaulatan, persamaan derajat, dan kerja sama internasional tanpa tekanan kekuatan besar.
Menghadapi keterbatasan BBM akibat ketegangan Iran-AS, Indonesia sangat logis jika membuka komunikasi yang lebih optimal tidak hanya dengan Rusia, tetapi juga dengan *Iran* dan *China*.
* *Iran:* Sebagai salah satu pemilik cadangan minyak terbesar, Iran adalah mitra strategis. Membeli minyak dari Iran di tengah sanksi Barat memang berisiko, namun demi kedaulatan energi nasional, Indonesia memiliki hak berdaulat untuk bertransaksi dengan siapapun sesuai prinsip bebas aktif.
* *China:* Sebagai kekuatan ekonomi baru, China menawarkan alternatif sistem pembayaran dan teknologi energi yang bisa menghindarkan Indonesia dari ketergantungan pada sistem keuangan Barat yang kerap dijadikan alat politik (sanctions).
### Menghadapi Karang Terjal
Namun, jalur ini tidak tanpa hambatan. Di dalam negeri, kebijakan Prabowo yang mencoba merangkul semua pihak mulai menuai kritik. Kerja sama pertahanan dengan AS, termasuk isu hak lintas udara (overflight rights), dikhawatirkan dapat menyeret Indonesia dalam pusaran konflik Laut China Selatan.
Di sisi lain, kematian tiga penjaga perdamaian Indonesia di Timur Tengah baru-baru ini menambah beban domestik terkait posisi Indonesia dalam isu Palestina.
### Kesimpulan: Kedaulatan di Atas Segalanya
Strategi diplomasi "seribu kawan" yang dijalankan Prabowo adalah manifestasi modern dari Dasa Sila Bandung. Dengan menjalin komunikasi optimal kepada Rusia, China, dan Iran, Indonesia sedang menegaskan bahwa kebijakan nasional tidak boleh didikte oleh kepentingan geopolitik negara lain.
Krisis energi di depan mata memerlukan keberanian seorang pemimpin untuk mengetuk pintu mana pun yang bisa menjamin ketersediaan BBM bagi rakyat. Selama langkah itu berpijak pada kepentingan nasional dan perdamaian dunia, maka "mendayung di antara dua karang" bukan lagi sekadar retorika, melainkan keharusan untuk bertahan hidup.
*Redaksi Teropong Senayan*
Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.
tag: #