Opini
Oleh Haris Rusly (Aktivis Petisi 28) pada hari Minggu, 25 Okt 2015 - 13:50:17 WIB
Bagikan Berita ini :

Satu Tahun Pemerintahan Joko-Kalla, Operasi Intelijen Asing Telah Menjangkau Toilet dan Meja Makan Presiden

32IMG-20151012-WA0011.jpg
Haris Rusly, Aktivis Petisi 28 (Sumber foto : Istimewa)

Hubungan diplomasi China dengan Jepang dalam sejarahnya selalu diwarnai perseteruan yang sangat emosional, bagaikan pertarungan abadi antara kebaikan melawan kejahatan, atau perseteruan alamiah antara tikus dengan kucing dalam film Tom and Jerry.

China (dan juga Korea Selatan) adalah dua negara yang selalu memutar ulang drama sejarah penindasan yang sangat keji yang dilakukan tentara Jepang terhadap rakyat dan bangsanya.

"Hanya bangsa Indonesia saja yang dipimpin oleh elite politik yang bermental jongos yang tidak trauma terhadap penjajahan asing yang sangat keji dan biadab, yang merampok kekayaan alam, memperbudak jutaan rakyat kita, wanita kita diperkosa oleh tentara Jepang, puluhan ribu ulama dan pejuang bangsa kita ditangkap, dibunuh, dipenjara dan dibuang oleh kolonialis Belanda hingga ke daerah yang sangat tandus di Afrika dan wafat sana. Akibatnya, hingga hari ini penjajahan asing masih mencengkram bangsa Indonesia yang di-back up oleh para 'londo ireng', 'marsose' dan 'bodyguard' politik".

Pemerintahan Joko-Kalla dalam berbagai kesempatan mengatakan akan menegakan Trisakti, namun pada kenyataannya tidak medesign ulang sistem negara yang memproteksi datangnya spektrum ancaman yang baru yang menjadikan negara kita sebagai medan pertarungan atau gelanggang perlombaan berbagai kepentingan international.

Dalam pertarungan yang dilatarbelakangi memperebutkan projek kereta cepat jarak pendek Jakarta-Bandung, terlihat Presiden Joko, Wapres Kalla dan Meneg BUMN Rini, diduga telah bertindak demi kepentingan pribadi dan perusahaannya, mengundang China dan Jepang untuk bertarung di atas tanah air kita.

Pemerintahan Joko-Kalla telah menjadikan bangsa Indonesia sebagai medan konflik antara dua poros kapitalisme global, Jepang dan Amerika dengan poros Trans-Pacific Partnership (TPP) berhadapan dengan China dan Rusia dengan poros BRICS.

"Saat ini perang intelijen dari dua poros kapitalisme global yang sedang bertarung memperebutkan pengaruh politik di negeri kita telah menjangkau hingga ke toilet, meja makan dan ruang rapat Presiden di Istana Negara".

Jika Pemerintahan Joko-Kalla mempunyai jiwa Trisakti pasti berusaha memproteksi negaranya dari ancaman dijadikan sebagai gelanggang atau medan konflik dari berbagai kepentingan international, baik pertarungan ideologi maupun ekonomi dan politik.

Marilah kita amati dan belajar kepada negara besar seperti Inggris, Amerika dan China, yg berhasil mendesign sistem negaranya yang kuat, kokoh dan kebal menghadapi berbagai ancaman yang menjadikan negaranya sebagai medan konflik dari berbagai kepentingan internationalis.(*)


TeropongRakyat adalah media warga. Setiap opini/berita di TeropongRakyat menjadi tanggung jawab Penulis.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #haris  #jokowi  #kalla  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
IDUL FITRI 2025 AHMAD NAJIB Q
advertisement
DOMPET DHUAFA RAMADHAN PALESTIN
advertisement
IDUL FITRI 2025 WACHID
advertisement
IDUL FITRI 2025 HEKAL
advertisement
IDUL FITRI 2025 HERMAN KHAERON
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Tiga Resep Dasar Berumur Panjang

Oleh Catatan Cak AT
pada hari Kamis, 03 Apr 2025
Saat menghadiri pertemuan ilmiah di Vatikan baru-baru ini, Dr. Venkatraman (Venki) Ramakrishnan, peraih Nobel Kimia 2009, menyempatkan diri menjenguk Paus Fransiskus yang baru saja pulih dari sakit. ...
Opini

Peran Intelijen Di Negeri Sendiri Sebagai Problem Solving Bukan Problem Taking

Era orde baru meninggalkan legacy intelijen, dengan stigma sebagai alat represif penguasa terhadap kelompok oposisi dan menyebar teror untuk menciptakan rasa takut publik. Kekuasaan orde baru, telah ...