Opini
Oleh Iko Musmulyadi (Direktur IMALA-Istana Mulia Asia Leadership Academi) pada hari Kamis, 28 Des 2017 - 13:38:25 WIB
Bagikan Berita ini :

Inikah "Partai 212" Itu?

99IMG_20171228_133519.jpg
Iko Musmulyadi (Direktur IMALA-Istana Mulia Asia Leadership Academi) (Sumber foto : Istimewa )

Sejak kelahirannya, dengan aksi tujuh (7) juta massa lebih di jantung ibukota, gerakan 212 memang sangat unik dan menginspirasi, bahkan sukses mendinamisasi kondisi sosial politik terkini. Aksi dan opini terkait ikon 212 hingga kini tak pernah basi. Isunya selalu seksi. Mulai dari aksi ratusan masa ratusan kilometer berjalan kaki, sekuat hati melewati "duri-duri", bergerak berani menyuarakan nurani meski di beberapa titik mereka dihadang polisi.

Aksi terus berlanjut hingga setahun kemudian digelar reuni para alumni. Mereka saling berjumpa kembali di Monas dalam momentum Maulid Nabi, yang juga menghadirkan jutaan massa berjajar rapi, tak ada anarki. Hingga jadi perbincangan di ILC. Diluar itu, kegiatan sosial keagamaan ummat Islam yang dimotori tokoh-tokoh 212 ramai dihadiri. Agenda dan seruan meramaikan sholat shubuh berjama'ah di masjid plus tabligh akbar bergema dimana-dimana. Gerakan 212 menjadi fenomena yang unik dan menginspirasi.

Ummat semakin terkonsolidasi. Safari dakwah oleh tokoh-tokoh gerakan 212 ke seluruh negeri dilakukan demi tetap menjaga komunikasi, kordinasi, dan konsolidasi antara ummat dan ulama. Demi menjaga dan mengokohkan persatuan dan kesatuan ummat, bangsa, dan negara. Di ranah ekonomi, bahkan bermunculan pendirian Koperasi Syariah di beberapa daerah, juga berbasis gerakan 212. Sungguh, inspirasi dan spirit 212 memang tak pernah berhenti.

Tak berlebihan, jika dikatakan bahwa gerakan 212 mampu memecahkan kebuntuan mobilisasi dan konsolidasi ummat Islam dalam melawan rezim yang tak berpihak ke mereka saat ini. Konsolidasi hati, fikri, dan fisik ummat Islam seluruh negeri yang telah sukses menggalang dan melibatkan jutaan massa ini memang harus dan terus dirawat. Dipupuk agar terus semakin besar dan kuat. Disirami agar terus tumbuh, tumbuh, dan tumbuh semakin tinggi dan rindang, menaungi semua elemen masyarakat dan bangsa ini. Memberikan keteduhan, keindahan, kenyamanan, dan kedamaian bagi siapa saja yang bernaung dibawahnya, tak pandang suku, agama, atau ras yang berbeda. Kita tak ingin gerakan ini layu sebelum berkembang. Tak ingin dia mati suri. Atau mati sama sekali sebelum berbuah.

Namun, sebuah gerakan massa tanpa akses politik adalah petaka. Dalam konteks ini maka, gerakan 212 memang menggoda siapa saja untuk mendorong wacana politik alternatif dengan tawaran konkrit membentuk partai politik progressif untuk mewakili diri sendiri dan bertarung melalui ruang politik elektoral (pemilu) melawan rezim politik yang notabene hari ini menunjukkan sikap tak memihak kelompok mayoritas sebagai pemegang saham republik ini. Malah terkesan memusuhi, mendiskriminasi, dan mengintimidasi. Persekusi terhadap ulama misalnya, terjadi dimana-mana dan itu dibiarkan.

Tugas gerakan 212 selanjutnya adalah mengawal, agar ke depan jangan sampai ulama dan ummat ini terus dibuly, dibuat rugi, disakiti, dikebiri, dan dizholimi.

Partai politik alternatif bisa saja hadir sebagai kekuatan untuk menghadapi rezim dan kekuatan taipan tersembunyi, melalui politik elektoral. Tapi ini rawan kepentingan. Alih-alih membangun kekuatan, malah nanti kekhawatiran gerakan yang layu sebelum berkembang benar-benar terjadi. Elite-elite gerakan 212 harus bisa menahan diri. Jangan terjebak hanyut oleh syahwat politik yang menggoda. Jangan kemudian gerakan yang sudah tertata rapi ini hancur berkeping-keping. Meski demikian, tetap dipikirkan harus punya opsi yang mengarah pada level praksis dan konkret untuk membangun dan mengelola tindakan massa berikutnya dalam pilihan, rencana, dan tahapan yang terukur secara politik.

Maka, menarik dicermati adalah koalisi yang dibangun oleh tiga partai politik saat ini, yaitu Gerindra, PKS, dan PAN. Tiga partai itu bersama menyatu dalam pilgub di lima propinsi untuk menghadapi pemilukada serentak tahun 2018. Koalisi Gerindra-PKS-PAN telah mengumumkan nama-nama bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang akan bertarung di lima propinsi pada pilkada 2018. Mayjen (purn) Sudrajat-Ahmad Syaikhu untuk pilgub Jawa Barat, Letjend TNI Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah untuk pilgub Sumatera Utara, Isran Noor-Hadi Mulyadi untuk pilgub Kalimantan Timur, dan mengusung pasangan Muhammad Kasuba-Majid Husen untuk pilgub Maluku Utara. Khusus untuk Jawa Tengah baru ada nama cagub yakni Sudirman Said, sementara wakilnya menyusul.

Dalam jagat perpolitikan Indonesia, bentuk dan proses konstelasi politik seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya dimana beberapa partai berkoalisi di tingkat nasional untuk kemudian berbagi "kue politik" dan merancang strategi bersama untuk memenangkan calon bersama serentak di pilgub beberapa wilayah. Mengingat tahun 2018 adalah tahun politik maka kuat diprediksi koalisi tiga partai ini akan berlanjut di pilpres 2019.

Koalisi Gerindra-PKS-PAN adalah koalisi nasionalis religius. Tak dipungkiri koalisi ini lahir seiring sejalan dengan gerakan 212 yang fenomenal itu. Inilah gerakan moral yang kemudian terkonversi menjadi kantong-kantong suara bagi kemenangan pasangan Anies-Sandi yang pada putaran kedua pilgub DKI 2017 diusung oleh koalisi Gerindra-PKS-PAN. Sebuah gerakan moral yang berbuah jatuhnya petahana Gubernur Tjahaya Basuki Purnama, yang padahal saat itu ia mengantongi dukungan rezim berkuasa dan finansial yang sangat kuat.

Fenomena gerakan 212 dan pilgub DKI waktu itu menggelinding menjadi isu nasional. Ummat pun terkonsolidasi tidak hanya di ibukota tapi juga di seluruh penjuru nusantara. Semua mata dan emosi tertuju pada hiruk pikuk politik Jakarta. Tiga partai ini nampaknya tak ingin kehilangan momentum. Mereka ingin terus bergandeng mesra, berjanji setia di pilkada. Terlebih di ajang pilpres 2014 waktu itu mereka juga terhimpun dalam Koalisi Merah Putih (KMP). Bulan madu mereka berlanjut dalam pesta demokrasi pilkada serentak 2018. Diprediksi, koalisi ini akan menjadi kekuatan politik baru yang permanen bagi kalangan nasionalis dan religius, setidaknya hingga pilpres 2019.

Dari romantisme politik Jakarta, wajar jika tiga partai ini mengkristal. Grass root gerakan 212 umumnya dimotori oleh kader-kader PKS dan warga Muhammadiyah yang berafiliasi politik ke PAN. Sementara Prabowo sebagai pentolan Gerindra kerap hadir ditengah-tengah massa ummat Islam.

Jadi, koalisi Gerindra-PKS-PAN, inikah "Partai 212" itu?(*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
IDUL FITRI 2025 AHMAD NAJIB Q
advertisement
DOMPET DHUAFA RAMADHAN PALESTIN
advertisement
IDUL FITRI 2025 WACHID
advertisement
IDUL FITRI 2025 HEKAL
advertisement
IDUL FITRI 2025 HERMAN KHAERON
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Spiritualitas Embun

Oleh Yudi Latif
pada hari Sabtu, 05 Apr 2025
Saudaraku, jadilah seperti embun, yang lahir dari bisik malam dan dingin langit. Dalam senyap fajar, embun bersujud, turun perlahan tanpa suara, menyentuh dunia tanpa luka, membawa pesan tak ...
Opini

Antara DPD RI dan Mosi Integral Natsir

Bulan ini, 75 tahun yang lalu, tepatnya 3 April 1950. Seorang Pahlawan Nasional Indonesia, Mohammad Natsir dari atas podium Parlemen Indonesia, menyampaikan pikirannya tentang perjalanan Indonesia ...