JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Kalangan pengusaha yang bergerak dalam bidang kontraktor minyak dan gas mengeluhkan ketentuan perpajakan yang membabi buta. Pasalnya, akibat harga minyak turun bisnis kontraktor migas juga sedang lesu.
"Pengenaan pajak begitu intensif tanpa dimbangi penyuluhan. Bagaimana pengusaha membayar pajak jika bisnis lesu seperti ini," ujar Jimmy J, pengelola usaha yang bergerak dalam kontraktor proyek migas kepada TeropongSenayan, Kamis (23/4/2015) di Jakarta.
Regulasi perpajakan yang tergesa-gesa seperti inilah menurut Jimmy membuat iklim usaha di Indonesia memberatkan kalangan pengusaha. Bahkan tak jarang memilih menutup atau mengurangi kegiatan usaha mengingat jika tetap diteruskan hanya akan menanggung beban usaha.
Tak hanya itu, regulasi tanpa perencanaan dan strategi yang matang seperti ini membuat iklim investasi di Indonesia dijauhi pebisnis asing. Sebab, pemodal asing menilai tidak adanya kepastian usaha. Sehingga mereka khawatir dengan modal yang akan ditanamankan ke Indonesia.
Jimmy yang sudah bertahun-tahun berbisnis dalam bidang kontraktor proyek migas ini mengingatkan jika kondisi seperti ini terus terjadi bisa mengancam ketahanan perekonomian nasional. "Kondisi ini sudah berlangsung tiga bulan terakhir. Harus segera ada terobosan konkrit dari pemerntah," ujar Jimmy.(ris)