
Anne adalah seorang akuntan. Dia tidak punya latar belakang teknologi. Namun dia punya mimpi menjadi pemimpin di perusahaan rintisan (start-up) teknologi tinggi. Secara logika, dia tidak memenuhi syarat.
Namun, untyuk meraih mimpinya itu dia menggunakan strategi yang cerdik. Petrtama, alih-alih mengambil kelas kewirausahaan di sekolah bisnis (di mana banyak pesaing MBA), ia mengambil kelas di sekolah teknik. Di sana, rasio MBA sangat sedikit, sehingga dia menjadi aset berharga bagi para insinyur yang membutuhkan keahlian bisnis.
Kedua, dia membangun posisi. Dia bergabung dengan tim insinyur, mengerjakan tugas yang mereka hindari (seperti presentasi dan rencana bisnis), dan menunjukkan keahliannya.
Ketiga, dai belajar, menekuni, dan menerapkan teknik negosiasi. Ketika lulus, dia mendapatkan tawaran pekerjaan dari firma konsultan besar. Dia tidak langsung menerima, tetapi menggunakan tawaran itu sebagai pengungkit (leverage) untuk menuntut posisi CEO di perusahaan rintisan timnya. Negosiasinya, dia tidak akan menerima tawaran itu bila tidak menjadi CEO.
Hasilnya, kurang dari setahun setelah lulus, Anne berhasil menjadi pemimpin perusahaan teknologi. Dia membuktikan bahwa posisi tawar dan strategi sosial bisa mengalahkan kurangnya latar belakang teknis.
Kisah lainnya datang dari Reginald Lewis. Dia itu pemberani. Ketika mendaftar menjadi mahasiswa Harvard, dia meminta apa yang dia inginkan. Hasilnya, beberapa tahun setelah lulus, dia menjadi salah satu orang Afrika-Amerika terkaya di AS.
Ceritanya bermula ketika dia ingin mengikuti program musim panas bergengsi di Harvard. Untuk bisa diterima, seorang calon tidak boleh melamar ke sekolah hukum Harvard. Lewis sendiri belum melamar secara resmi dan belum mengambil tes masuk. Mustahil diterima di Harvard bukan?
Namun, dia tetap mendatangi Harvard, berjalan keliling kampus, dan berhasil bertemu dengan profesor serta dekan penerimaan. Ia mendesak kasusnya dengan argumen kuat bahwa menerima dirinya akan menguntungkan sekolah tersebut.
Harvard melunak. Akhirnya, Lewis menjadi satu-satunya orang dalam sejarah sekolah tersebut yang diterima sebelum mengisi formulir pendaftaran.
Kisah ini mengajarkan bahwa aturan sering kali bisa ditekuk jika seseorang memiliki keberanian untuk bertanya dan "menjual" dirinya.
Ada lagi kisah inspiratif lainnya. Keith Ferrazzi adalah seorang penulis buku terlaris, pakar pemasaran (marketing maven), dan pembicara ternama yang lulus dari Harvard Business School pada tahun 1992.
Baru lulus dari Harvard, Keith ditawari pekerjaan oleh Deloitte. Sebelum menerima tawaran itu, dia mengajukan satu syarat yang tidak biasa. Dia meminta makan malam setahun sekali dengan kepala perusahaan tersebut di restoran yang sama tempat mereka bertemu saat wawancara.
Lewis tahu bahwa akses ke orang-orang berkuasa adalah kunci kesuksesan. Akses itu adalah makan malam.
Bos Deloitte setuju.
Disini Ferrazzi membuktikan bahwa keberanian untuk "meminta" akses dan mentor; bahkan ketika Anda masih junior, dapat membuka jalan menuju lingkaran kekuasaan tertinggi.
Lain lagi dengan Laura Esserman, ahli bedah dan direktur Carol Franc Buck Breast Care Center di UCSF.
Laura Esserman memiliki visi untuk mengubah cara perawatan kanker payudara di UCSF (University of California, San Francisco) agar lebih berpusat pada pasien. Ia ingin menyatukan berbagai spesialis dalam satu fasilitas agar pasien tidak perlu berpindah-pindah.
Namun dia menghadapi tentangan birokrasi yang masif. Dia menghadapi masalah anggaran, ego departemen, dan budaya akademik yang kaku.
Namun Esserman tidak menyerah. Ia membangun reputasi nasional, mencari pendanaan eksternal, dan menggunakan data untuk membungkam kritik. Intinya, ketika jalannya diblokir di satu sisi, ia mencari jalan lain.
Akhirnya, dia berhasil mendapatkankan visinya itu.
Disini kuncinya adalah ketekunan (persistensi) dan kemampuan untuk mengatasi kemunduran. Dia membuktikan bahwa untuk melakukan perubahan besar yang bernilai sosial, seseorang harus bersedia berjuang melalui konflik dan oposisi.
Pengalaman Anne, Lewis, Laura, dan Ferrazzi yang diceritakan Jeffrey Pfeffer dalam _Power: Why Some People Have It and Others Don"t_ mengajarkan bahwa untuk meraih sesuatu, mereka menunggu sampai keadaan menjadi ideal sebelum melangkah. Mereka bergerak dengan apa yang mereka punyai, membaca situasi dengan jeli, dan bertindak
Anne tidak menunggu sampai dirinya mampu secara teknis. Reginald Lewis tidak menunggu sampai mendapatkan dan mengisi formulir pendaftaran. Keith Ferrazzi tidak menunggu menjadi senior. Laura Esserman tidak menunggu sistem berubah dengan sendirinya. Mereka semua memilih untuk bertanya, meminta, bertahan, dan mencari jalan lain saat pintu utama tertutup.
Pada akhirnya, _the power_ bukan soal posisi atau gelar. Ia muncul ketika seseorang cukup sadar dengan apa yang ia inginkan, cukup berani memperjuangkannya, dan cukup sabar untuk menjalaninya. Dari sanalah perubahan; baik kecil maupun besar—pelan-pelan menemukan jalannya.(*)
Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.
tag: #