Opini
Oleh Haris Rusly (Aktivis Petisi 28) pada hari Rabu, 16 Sep 2015 - 15:47:50 WIB
Bagikan Berita ini :

Komplotan Saudagar dan Taipan Memanfaatkan Kelemahan Pemerintah Untuk Merampok Proyek

14IMG-20150908-WA0002_1441695869636.jpg
Haris Rusly, Aktivis Petisi 28 (Sumber foto : Istimewa)

Tak ada prestasi yang dapat kita banggakan dari komplotan saudagar dan taipan. Kenyataannya, hanya Indomie produk Indofood yang jadi kebanggaan nasional kita. Di luar Indomie, bahkan garam dan tusuk gigi pun kita impor.

Para saudagar dan taipan tersebut menjadi kaya raya bukan karena inovasi dan industri, sebagaimana Zaibatsu (konglomerat di Jepang yang lahir pada paruh kedua zaman Takugawa maupun Meiji), atau Chaebol (konglomerat di Korsel) yang melahirkan sejumlah inovasi dan industri, yang produknya saat ini mengepung bangsa kita.

Mereka menjadi saudagar dan taipan kaya raya karena berhasil membajak parpol dan institusi negara, yang memudahkan mereka mengeruk SDA, menguasai tanah untuk perkebunan, menipu bank di saat krisis, melakukan rekayasa proyek dengan jaminan negara, serta membunuh industri nasional dengan impor.

Kenyataan tersebut mengingatkan kita pada tesisnya Yushihara Kunio dalam buku Kapitalisme Ersatz Asia Tenggara (LP3ES: 1990). Yoshihara melakukan penelitian di lima negara Asia Tenggara, Filipina, Singapura, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Secara singkat Yoshihara menjelaskan bahwa kapitalisme di Asia Tenggara menjadi Ersatz karena dua hal. Pertama, di Asia Tenggara, campur tangan pemerintah terlalu banyak sehingga mengganggu prinsip persaingan bebas. Kedua, kapitalisme di Asia Tenggara tidak ditopang perkembangan teknologi sehingga tak terjadi industrialisasi yang mandiri.

"Ersatz" berasal dari bahasa Jerman yang berarti pengganti atau substitusi, lalu diadopsi ke dalam bahasa Inggris dengan arti yang sedikit berbeda, "substitusi yg lebih inferior", atau kapitalisme substitusi yang lebih inferior.

Situasi yang berbeda di era reformasi adalah, ketika para saudagar dan taipan membajak parpol dan institusi negara dalam sistem pasar bebas untuk tujuan merampok, dengan mematikan inovasi dan industrialisasi.(bersambung)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #haris  #saudagar  #penguasa  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
IDUL FITRI 2025 AHMAD NAJIB Q
advertisement
DOMPET DHUAFA RAMADHAN PALESTIN
advertisement
IDUL FITRI 2025 WACHID
advertisement
IDUL FITRI 2025 HEKAL
advertisement
IDUL FITRI 2025 HERMAN KHAERON
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Spiritualitas Embun

Oleh Yudi Latif
pada hari Sabtu, 05 Apr 2025
Saudaraku, jadilah seperti embun, yang lahir dari bisik malam dan dingin langit. Dalam senyap fajar, embun bersujud, turun perlahan tanpa suara, menyentuh dunia tanpa luka, membawa pesan tak ...
Opini

Antara DPD RI dan Mosi Integral Natsir

Bulan ini, 75 tahun yang lalu, tepatnya 3 April 1950. Seorang Pahlawan Nasional Indonesia, Mohammad Natsir dari atas podium Parlemen Indonesia, menyampaikan pikirannya tentang perjalanan Indonesia ...