Opini
Oleh Haris Rusly (Aktivis Petisi 28) pada hari Jumat, 25 Sep 2015 - 09:58:34 WIB
Bagikan Berita ini :

Memanipulasi Wong Cilik Untuk Media Darling dan Investor Darling

31IMG-20150908-WA0002_1441695869636.jpg
Haris Rusly, Aktivis Petisi 28 (Sumber foto : Istimewa)

Keadaan Pemerintahan Joko Widodo saat ini mengingatkan kita pada mendiang sahabat kita Om Franky Sahiliatua yang menulis dan menyanyikan sebuah lagu yang liriknya tentang mental anak jajahan yang tak sanggup hidup bila tak dijajah:

"Kita rindu biasa dijajah, sekarang tidak.

Kita rindu,

Mental kita masih anak jajahan,

Sebagian kita mencari ke barat, Paman Sam engkau tuanku.

Sebagian kita mencari ke timur, Paman Abu engkau tuanku.

Datanglah jajahlah kami, kami tak sanggup hidup sendiri".

Sejak menjadi Gubernur DKI hingga berkampanye lalu terpilih menjadi Presiden RI, tema sentral yang diangkat Presiden Joko adalah tentang kemudahan investasi asing untuk menanam modal.

Setelah berhasil menjadi "media darling" untuk tujuan memanipulasi keasadaran rakyat, kini tak henti-henti nya Presiden Joko berjuang untuk menjadi "investor darling", "saudagar dan taipan darling".

Segala macam cara ditempuh, termasuk bermimpi untuk melakukan deregulasi yang menghambat investasi, mengedarkan Kepres yang mengintervensi penegakan hukum untuk tidak mempidanakan kebijakan, hingga cara paling konyol yang pernah dilakukan oleh seorang Presiden di muka bumi, yaitu berpidato layaknya seorang "salles marketing" di depan pelaku bisnis World Economic Forum, kata Presiden Joko: "If you have any problem, CALL ME".

Presiden Joko yang bermental "rindu dijajah" berpandangan bahwa masalah ekonomi yang dihadapi bangsa kita hanya bisa ditolong oleh dewa penolong investor asing.

Padahal masalah terbesar yang menghambat pertumbuhan ekonomi bangsa kita sesungguhnya adalah diri kita sendiri yang tak bersatu, tak percaya diri serta bermental inlander, diperparah oleh sistem politik negara era reformasi liberalisme yang menciptakan "kegaduhan sistemik" yang berkelanjutan serta para pemimpin yang korup dan khianat (ingkar janji dan sumpah palsu).

Ingat, "tak ada bangsa di dunia ini yang jadi bangsa besar karena ditolong oleh bangsa lain". (bersambung)

TeropongRakyat adalah media warga. Setiap opini/berita di TeropongRakyat menjadi tanggung jawab Penulis.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #haris  #saudagar  #penguasa  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DD BERBAGI
advertisement
HUT RI M HAEKAL 2026
advertisement
HUT RI SOKSI 2026
advertisement
HUT RI H. IWAN D ARAS 2026
advertisement
HUT RI BAMBANG PATIJAYA
advertisement
HUT RI A NAJIB 2026
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Dracin, Drakor, hingga Drama AI, Mengapa Kita Senang Larut dalam Cerita?

Oleh Kurniati Putri Haeirina, M.I.Kom. (Dosen Program Studi Ilmu KomunikasiUniversitas Bakrie)
pada hari Minggu, 30 Agu 2026
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Beberapa tahun terakhir, pilihan tontonan kita semakin variarif. Drama Korea sudah lama memiliki penonton setia. Potongan drama China atau dracin makin mudah ditemukan di ...
Opini

SIAPA BOTOK? Dari Warung Kerang di Kaliampo, Aktivisme Jalanan, hingga Membawa Aspirasi Pati ke Gedung DPR

Nama Supriyono mungkin belum banyak dikenal di luar Kabupaten Pati. Namun, nama panggilannya, Botok, dalam dua tahun terakhir semakin sering muncul dalam pemberitaan dan percakapan publik. Ia ...